07 May 2016

Menolak Untuk Bodoh

Permasalahan utama mayoritas rakyat terhadap negara adalah apatisme yang kelewat ngejamur, khususnya terjadi pada generasi muda yang notabene generasi penerus bangsa. Dan kayanya bahasan di post ini mau gua persempit jadi ke generasi muda aja deh karena gua pribadi pun masih ada di generasi ini dan kayaya kurang fair aja kalo ngejudge golongan tua yang gua sendiri pun belom pernah ngalamin.

Jadi, post ini bakal bahas ketidapedulian generasi muda terhadap aktualitas iklim politik, ekonomi, dan situasi negara Indonesia yang sebenarnya cukup penting untuk diperhatikan agar negara kita terhindar dari hegemoni semacam rezim orba pada tingkat ekstrimnya dan menghindari praktik kkn golongan tua yang menjabat sebagai petinggi negara pada tingkat nyatanya.

Dari pengalaman pribadi gua, dulu dunia politik itu terlalu rumit buat dipahamin dan sangat tidak menarik untuk disimak, sampe gua berdiri di titik dimana gua sadar bahwa kunci kesejahteraan suatu negara hanya membutuhkan satu titik balik yang dilakukan oleh satu generasi yang kemudian akan diteruskan oleh generasi selanjutnya. Dari dulu gua sempet mikir beberapa alasan soal terjadinya kkn di lembaga negara terjadi karena generasi yang menjabat adalah golongan tua yang sudah dibutakan oleh uang dan kemapanan, dan ada tokoh yang gua udah lupa siapa pernah ngomong "berantas kkn itu gampang, taro aja generasi muda di kepemerintahan." Gua setuju sama omongan orang itu karena generasi muda cenderung masih berorientasi pada objektivitas nasionalisme karena masih kemakan doktrin yang dikasih selama sekolah soal anti kkn, dimana itu bagus.

Tapi setelah gua liat generasi muda pada umumnya, gamungkin, yang ada Indonesia makin ancur kalo dipegang sama kita karena kita masih terlalu apatis entah karena masih naif karena kurang/sulit buat dapetin informasi atau karena asumsi media terlalu optimistis soal pemahaman rata-rata masyarakat, khusunya generasi muda. Karena yang gua liat dalam pemberitaan media, penyampaian isu aktualnya emang oke, tapi seringkali permasalahan utamanya adalah pemahaman soal esensi isu itu sendiri. Media sering make istilah-istilah esensial yang sulit dipahamin, dimana misinterpretasi dalam satu kata bisa menimbulkan pemahaman yang sepenuhnya berbeda, yang bakal menyebabkan pembaca kehilangan duduk masalah dari isu yang jadi bahasan. Contohnya soal simposium 1965, tujuan dari simposium ini kan rekonsiliasi rezim yang menjabat sekarang dan keluarga korban, arti rekonsiliasi itu apa? Jadi ya, gua sendiri kalo baca koran selalu didampingi kbbi.

Duduk masalah itu hal terpenting dalam pembahasan segala sesuatu, kalo duduk masalahnya aja gatau, gimana mau ngikutin? Jadi ya kalo pengalaman pribadi gua sih ini salah satu hal yang bikin gua jadi apatis sama hingar bingar politik, kesulitan dalam memahami karena entah bagaimana gua melihat media seringkali tidak mencantumkan poin penting yang menjadi inti permasalahan.

Itu ngomongin apa ya? Yaudah balik lagi ke topik.

Aplikasi dari kepedulian masyarakat terhadap negara itu sendiri kan sebenernya akar dari demokrasi, nah Indonesia ini kan mengaku sebagai negara demokratis, tapi kalo mayoritas masyarakatnya sendiri aja gak peduli, karena banyak aspek dan salah satunya adalah yang gua jelasin di atas, sama pemerintah, apa yang ngebedain kita sama negara monarki? Emang gua gapunya data soal berapa banyak masyarakat yang menaruh perhatian sama yang enggak, tapi dari pengalaman empiris aja deh. Gua kuliah di salah satu univ yang deket sama ibukota, dari pengalaman gua berkuliah disini, walaupun baru 2 semester, kebanyakan dari mahasiswa yang ada di sekitar lingkaran pergaulan gua gatau dan gapeduli sama isu isu yang terjadi di kepemerintahan. Apatisme ini terjadi di univ gua yang deket sama ibukota yang notabene pusat kepemerintahan, dan univ gua adalah salah satu univ bergengsi di Indonesia. Dari kesimpulan yang gua ambil di sekitar, jelas gua gak ngarep masyarakat yang peduli sama iklim kepemerintahan jadi mayoritas, karena sekali lagi, ini deket sama ibukota dan univ bergengsi, jadi ya jelas gua gak ngarep sama masyarakat yang tinggal di daerah yang jauh dari wilayah ibukota.

Nah implementasi dari kepedulian masyarakat terhadap dunia politik negara itu sebenernya cukup deket, kaya referendum, pemilu, demo, dan masih banyak lagi. Karena sekarang yang lagi hot itu isu Panama Papers, jadi topik ini kita jadiin percontohan implementasi kepeduliaan ya.

Sekarang gua jelasin dulu tentang Panama Papers, soalnya kalo gak gua jelasin dulu berarti gua sama aja kaya media yang gak peduli pembaca ngerti apa enggak. Jadi Panama Papers ini adalah kebocoran data kepemilikan shell company di wilayah suaka pajak atau tax haven yang digaungi oleh firma hukum Mossack Fonseca. Ada banyak nama dan tokoh publik yang tercantum di data Panama Papers ini yang tersebar di seluruh dunia. Tokoh-tokoh yang tercantum di Panama Papers ini tersebar dari pesepak bola Lionel Messi, perdana menteri Islandia Sigmundur David Gunnlaugson, perdana menteri Inggris David Cameron, presiden Cina Xi Jinping, dan ya pokoknya banyak deh dari pejabat petinggi negara, pengusaha, artis, orang-orang berduit, sampe sanak saudara orang-orang berduit.


Jangan sujon dulu semuanya mba-mba dan mas-mas, gak selamanya yang namanya tercatut di Panama Papers itu bersalah. Sebelom ngejudge nama-nama yang ada di Panama Papers, sekarang kita harus ngerti dulu arti dari shell company atau perusahaan cangkang. Jadi kalo copas dari kamus oxford, definisi dari shell company itu adalah:

"A non-trading company used as a vehicle for various financial maneuvers or kept dormant for future use in some other capacity"

Susah lah ya kalo definisinya dibahas secara semantik, biar lebih gampang buat ngerti shell company itu apa, ini ada gambar dari gugel buat tau shell company itu fungsinya buat apa, dari yang legal sampe ilegal.


Ya jadi itu lah arti dari shell company atau shell corporation atau perusahaan cangkang. Jadi, kepemilikan shell company itu gak selamanya salah. TAPI, permasalahan dari Panama Papers ini adalah.... Semua shell company-nya ada di wilayah tax haven atau suaka pajak. Nahloh...

Gua jelasin dulu deh ya tax haven itu apaan. Gausah copas dari kamus lah ya penjelasannya gua jelasin aja biar cepet. Jadi tax haven itu adalah wilayah/negara yang pajaknya rendah atau gaada pajak sama sekali. Dan gua gatau pasti tapi kayanya sih pajak paling dekat yang diomongin disini adalah pajak penghasilan.

Nah, permasalahan pajak memajak ini emang cukup memberatkan bagi individu yang berpenghasilan diatas 500 juta yaitu sebesar 30%. Dan umunnya nama-nama yang tercantum di Panama Papers punya saham di shell company yang nominalnya milyaran. Jadi ya jelas masalah pajak ini sangat memberatkan para orang-orang tajir. Tapi ingat ya, masih belom pasti juga orang yang namanya ada di Panama Papers itu bersalah, cuma kecendrungannya disini itu sangat mencurigakan ya terutama buat orang Indo.

Duduk permasalahan dari kasus Panama Papers adalah tokoh-tokoh yang tercatut namanya, alasannya memiliki shell company di tax haven, dan kredibilitasnya dalam posisi masyarakat.

Jadi gini, Indonesia masih belom nemu solusi buat nutupin defisit pengeluaran negara yang selalu berujung pada solusi ngutang tiap tahunnya. Pendapatan pajak dan non-pajak tetep gaada yang bisa nutupin pengeluaran negara entah karena kebijakan fiskalnya kurang ampuh atau orientasinya kurang terfokus. Harapan dari investasi sektor swasta itu kecil karena pihak swasta dalam praktiknya akan menunggu pihak negeri untuk berada di lapangan terlebih dahulu sedangkan investasi dalam negeri pun mengalami hambatan karena defisit yang dialami setiap tahunnya. Nah jumlah pendapatan negara dari pajak itu belom pernah berada diatas anggaran pembelanjaan. Itulah salah satu faktor kenapa Panama Papers ini cukup heboh dikalangan pejabat negeri. Banyak yang ngarep kalo tax amensty dari oknum-oknum yang tercatut bisa menutupi pengeluaran negara, setidaknya untuk APBN 2016, maka dari itu, pengerjaan RUU tax amnesty dikebut buat ngejar pembukuan APBN 2016 yang untuk pertama kalinya memiliki potensi dapat menutupi pengeluaran dari pendapatan negara.

Nah disinilah lucunya bro, kalo soal RUU tax amensty sih ya isinya pasti putusan pidana berupa denda, ya gua sih ngarepnya bisa berpotensi jadi putusan kurungan atau mungkin penjara, karena, begini nih.

Mekanisme yang ada di kepala gua sih gini, entah apakah ada realisasinya atau enggak. Jadi setelah namanya terkuak semua, selidikin tuh duit datengnya darimana, prioritas penyelidikannya ya jelas pejabat dulu. Kenapa harus pejabat dulu? Karena banyak kasusnya pejabat ini tidak mencantumkan perusahaan cangkangnya di Laporan Harta Kekayaan Pejabat, dan di banyak kasus pejabat-pejabat yang namanya tercantum di Panama Papers ini gak mau ngakuin shell company, yang walaupun semuanya gak mencantumkan nama si pemilik secara eksplisit tapi banyak yang mengindikasikan afiliasi antara shell company ini dengan perusahaan onshore-nya, sebagai miliknya. Bahkan ada yang udah jelas-jelas ke-gap punya shell company tapi giliran di klarifikasi malah berdalih macem-macem. Yaudah oke emang nyembunyiin sesuatu itu adalah inti dari shell company. Tapi bro, ente pejabat, kalo dulu belom terkuak yaudah terserah ente mau rahasiain apaan, nah kalo sekarang udah ketauan semua siapa aja yang punya shell company, kenapa ente masih takut buat nyatain ke publik kalo ente itu gak bersalah? Kenapa malah kabur-kaburan ngasih dalih? Mencurigakan gak? Ya jelas lah kalo emang itu shell company-nya jelas buat apaan kan gabakal ada stigma negatif dari masyarakat, tapi ya nyatanya belom ada tuh pejabat yang klarifikasi soal kepemilikan shell company ke media.

Jadi gini, kasus yang paling mungkin soal kenapa ada pejabat Indonesia yang punya shell company itu adalah penghindaran pajak dan cuci uang. Karena ya, balik lagi kalo emang itu duit halal, dan ente emang orangnya taat pajak, kenapa harus bikin shell company? Di wilayah tax haven?

Jadi, lanjut ke mekanisme yang gua pikirin. Setelah diselidikin uangnya darimana, baru tuh disidang, baru kasih putusan pidana, kalo udah ada pejabat yang keseret satu kaya misalkan dia dapet uangnya uang suap, kan gampang buat nyeret pihak swasta yang lain.

Tapi sulitnya ngadain penyelidikan di kasus ini tuh nyari buktinya, karena beberapa wilayah tax haven gak menuntut identitas si pemilik shell company, jadi ya, kebayang deh betapa susahnya buat tim penyidik kalo emang ada.

Nah inilah dia bagian yang paling asik buat dibahas, soal tokoh-tokoh yang tercatut namanya di Panama Papers. Gua cuma bakal nulis beberapa karena gamungkin juga buat nyeritain lebih dari 800 nama dan gak semuanya, apalagi gua, juga bakal tahu keseluruhan detil lebih dari 800 nama itu kan. Jadi, mari kita bahas tokoh-tokoh yang tercatut terutama petinggi-petinggi negara.

Orang Indonesia terkenal yang ada di Panama Papers itu banyak dah pokoknya, kaya orang-orang super tajir dari perusahaan semacem agung sedayu group, indofood, agung podomoro, gobbels, ya pokoknya banyak dah. Nah yang mau gua tulis disini itu beberapa tokoh aja yang relevan sama kepedulian masyarakat terhadap kepemerintahan seperti bahasan awal di atas, diantaranya Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Harry Azhar Aziz, dan pengusaha Sandiaga Uno yang memiliki kesempatan untuk diusung Gerindra buat maju ke Pilkada DKI 2017 dengan elektabilitas di posisi ketiga setelah Ahok yang berada di posisi pertama dan Yusril Ihza Mahendra di posisi kedua.

Jadi, inilah letak korelasi dari kepedulian masyarakat terhadap kepemerintahan yang diimplementasiin lewat kasus Panama Papers. Tokoh pertama yang mau gua bahas itu pak Luhut Pandjaitan. Jadi sebelom dijelasin lebih lanjut, ada sedikit intermeso soal hubungan pak Luhut dengan presiden Jokowi, entahlah ini tergolong kkn atau bukan tapi ya gua nilai belom ada masalah yang muncul dalam masa jabat Luhut, ya jadi gak masalah sih pak luhut sekarang jadi menteri.

Jadi gini, gua baca di majalah Tempo kalo Luhut dan Jokowi dulu sempat bermitra di sebuah perusahaan yang entah awalnya ini PT punya siapa tapi kemungkinan besar punya pak Luhut karena beliaulah yang menyambangi Jokowi. Waktu itu pak Jokowi masih jabat jadi walikota Solo. Nama perusahaannya ini PT Adimitra Lestari yang berkutat di kehutanan. Yang ditulis di majalah Tempo sih pak Luhut mengutus ajudannya untuk mencari mitra bisnis yang bisa mengelola kayu, tapi cerita ujungnya justru pak Jokowi lah yang menjadi kepala dewan dari PT itu karena keluarga beliau memegang saham sejumlah 51% dan pak Luhut memegang saham sebesar 49%. Singkat cerita, jadi kemungkinan besar selama ini yang mendanai pak Jokowi itu mungkin pak Luhut walaupun masih spekulatif, tapi sekiranya 51% saham itu udah termasuk ke dalam dana insentif buat nambah-nambahin biaya kampanye pak Jokowi toh. Dan saat Jokowi naik ke tahta presiden, pak Luhut ngikut deh. Tapi karena selama ini gaada masalah yang diberitakan atau jadi investigasi disini, jadi ya kayanya jual beli kursi ini masih tergolong dalam hal legal. Karena toh gaada masalah dengan kinerja pak Luhut kan sampai sekarang ini. Tapi gua masih ngerasa ada yang salah sih entahlah.

Balik lagi ke Luhut dan Panama Papers. Jadi, yang diberitakan ini pak luhut punya sebuah shell company di Kepuluan Seychelles, di dekat Madagaskar, Afrika. Nah Kep. Seychelles ini adalah salah satu negara tax haven, bebas pajak. Dan kebijakan layanan republik Seychelles ini luar biasa strategis buat mendirikan shell company karena selain bebas pajak, negara ini juga menjamin kerahasiaan informasi karena negara ini gapunya kerja sama pertukaran informasi dengan negara lain maupun organisasi internasional. Kebijakan lainnya, administrasi dalam membuat perusahaan di negara ini sangat dipermudah oleh pemerintah yang berdaulat. Dan yang paling menguntungkan dari semuanya adalah, negara ini tidak mewajibkan pelaporan pemilik sebenarnya atau beneficial owner. Dan kebijakan terakhir lah yang menjadi carut marut investigasi, terutama yang terjadi pada pak Luhut.

Jadi ada sebuah shell company di Seychelles bernama Mayfair International Ltd yang di datanya ada nama pak Luhut sebagai pemegang saham tunggal dari tahun 2006. Nah anak perusahaan dari Mayfair ini ada 2, yang pertama PT Persada Inti Energi dan PT Buana Inti Energi yang di dokumen Mayfair di Seychelles keduanya beralamat di lantai tiga Graha Binakarsa, Jalan H R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Nah waktu disamper kesana, dua-duanya ternyata gaada tuh perusahaannya wayoloh... Ya pokoknya singkat cerita karena post ini udah kepanjangan, pak Luhut ini tidak mengakui keberadaan Mayfair Ltd.

Nanti ya dikasih tau korelasi antara kepedulian dengan petinggi negara yang sedang/akan menjabat abis 3 nama yang udah gua sebut tadi selesai dikupas, dari perspektif gua.

Selanjutnya, Sandiaga Uno. Ya, beliau emang pengusaha sukses dan anggota parpol Gerindra. Emang udah tajir melintir sih ya jadi gak heran kalo dia sampe punya shell company. Tapi yang jadi permasalahan adalah, nama beliau ada di Panama Papers, tapi beliau masih berkesempatan besar buat diusung sama Gerindra buat nyalon jadi gubernur DKI di pilkada 2017 karena elektabilitasnya di posisi ke-3. Ya walaupun sinyal-sinyalnya kemungkinan besar pak Prabowo bakal milih koalisi sama PBB buat nyalonin Yusril, tapi ya tetep aja kemungkinan buat Sandiaga Uno buat dicalonin itu masih belom ditutup karena DPP Gerindra pun masih belom memutuskan untuk mengusung siapa. Gini ya simpelnya, permasalahannya adalah, boy, belom jabat aja namanya udah ada di Panama Papers yang walaupun belom tentu salah, tapi ya belom tentu bener juga gitu loh, udah lah yang pasti-pasti aja sih kaya Ahok atau Yusril. Ya bukannya gua gak setuju sama Sandiaga Uno dicalonin, tapi kan toh kenapa mesti lewat jalan raya yang gatau macet apa enggak kalo ada jalan tol yang bebas hambatan, gitu loh.

Yaudah lah karena gua juga sebenernya gatau banyak soal Sandiaga Uno, sekarang mari kita beralih ke Harry Azhar Aziz, ketua BPK. Hmmmm ini nih yang seru nih.

Ini post panjang bener ya, bodo amat lah.

Jadi gini, apakah semuanya sudah tau soal kasus RS Sumber Waras antara Pemprov DKI dan BPK? Yaudah anggep aja belom ya jadi gua jelasin dulu disini. RS Sumber Waras itu adalah rumah sakit di daerah Grogol, Jakarta. Kasusnya bermula setelah BPK menghasilkan audit yang didalamnya ada indikasi kerugian negara senilai 191 Miliar Rupiah. Ada ketidaksesuaian antara pembukuan yang dimiliki Pemprov DKI dan hasil audit BPK soal pembelian lahan yang dilakukan tahun 2014, waktu Jokowi masih jadi gubernur, yang sampe sekarang masih diselidiki oleh KPK. Terjadilah kisruh antara Pemprov DKI (Ahok) dan BPK. Nah disinilah dimana kredibilitas hasil audit BPK dipertanyakan, KARENA KETUANYA AJA PANAMA PAPERS. Dan yang lebih tainya lagi, Harry Azhar Aziz ini belom ngasih Laporah Harta Kekayaan Pejabat Negara ke KPK, nahloh makin parno deh ogut sama hasil audit BPK soalnya ketuanya aja gak mau ngikutin prosedur transparansi dalam upaya pemberantasan korupsi. Jadi, apapun hasil dari penyelidikan KPK, pasti dan dijamin bakal krusial bagi pihak yang kalah. Karena, kayanya kita semua yang setidaknya pernah baca koran atau pernah nonton berita pasti tau lah kan Ahok orangnya gimana? Ahok yang kesandung kasus terus tapi gapernah jadi tersangka, karena entah bagaimana dia selalu benar, selalu lurus, tau kan? Jadi kebayang gak kalo misalkan hasil penyelidikan KPK menyatakan Ahok bersalah dalam kasus ini? Untuk pertama kalinya Ahok salah di persidangan dengan skala sebesar ini? Dan kalo hasilnya mengatakan bahwa BPK yang bersalah, itu lebih krusial lagi tuh, soalnya bayangin, bakal dikemanain tuh kredibilitas BPK? Apa nasib hasil audit BPK yang sebelom-belomnya? Ya kalo firasat gua sih mengatakan kalo Ahok bakal menang juga di kasus Sumber Waras ini karena bukti-bukti yang disodorin juga udah cukup nguatin dia, entahlah kita tunggu putusan KPK aja yegak?

Ya gua pribadi sih walaupun tau masuk Panama Papers itu belom tentu salah, tapi tetep naro praduga sih ke setiap nama yang ada, terutama pejabat. Karena, sekali lagi, ente pejabat negara, ngapain punya offshore company dan lebih parah lagi shell company sih? Proker setiap koalisi rezim aja jelas-jelas memajukan sektor ekonomi bangsa. Ente pejabat bor bukan wiraswastawan, parlemen ente aja bingung bikin kebijakan fiskal buat narikin investor, eh ente-ente malah pada buat perusahaan di luar negeri, di negara bebas pajak pula. Padahal udah tau tiap taun negara ngutang. Apa jangan-jangan ente takut ditanyain ente dapet duit darimana? Makanya ente taro diluar negeri? Ya kalo gitu sih ane ngerti deh kenapa ente bikin shell company.

Nah akhirnya kita sampai juga di babak akhir dari post ini, yaitu bukan, bukan kesimpulan. Bagian akhirnya akan membahas kepedulian rakyat akan apa yang terjadi di kepemerintahan.

Gini nih, sekarang semuanya udah cukup jelas tentang Panama Papers itu apa? Dan udah tau siapa aja yang ada di list Panama Papers? Udah tau juga kan kalo pak Luhut dan Harry Azhar Aziz masih menjabat di posisinya masing-masing? Udah tau juga kan kalo Sandiaga Uno justru memiliki kesempatan buat maju jadi calon DKI-1?

Nah inilah dimana letak kepedulian masyarakat terhadap kepemerintahan menurut gua cukup penting. Walaupun sifatnya masih praduga, tapi ya kalo nama pejabat udah terbukti masuk ke Panama Papers, menurut gua itu gausah pikir panjang lagi sih karena ya alesannya ya kaya yang udah gua jabarin diatas lah pokoknya. Maksudnya ngapain ngadain investigasi, kalo kemungkinan besar hasilnya bakalan sama aja? Atau gini deh, selagi RUU tax amnesty dibahas, tim investigasi juga percepat lah geraknya cari bukti ini itu mau bener mau salah yang penting bukti soal keadaan si pejabat yang tercatut namanya. Karena coba liat Islandia, yang kecatut perdana menterinya, tapi rakyat peduli sama kesejahteraan masing-masing, jadi mereka minta PM nya mundur, dan ya PM nya mundur walaupun belum terbukti bersalah. Kalo Indonesia? Jangankan peduli, temen-temen kampus gua aja banyak yang belom pernah denger istilah Panama Papers.

Intinya, kalo buat kesejahteraan kita bersama, ya kenapa enggak? Mari kita peduli dan mari kita buka mata kita lebar-lebar karena hal ini berhubungan langsung dengan hidup kita.

Mari kita tolak tindakan menolak untuk mengerti.

0 comment(s):

Post a Comment