01 March 2017

AHOK

Yak mari langsung saja kita nyebur ke topik utama post ini.

BASUKI TJAHAJA PURNAMA

Rada ngeri yah gua akhir-akhir ini mau nulis di blog tuh semenjak ada UU ITE, yatapi gapapa lah ya blog gua mah yang baca dikit ini.

Gini, saya peringatkan, beberapa orang mungkin akan menyebut saya sebagai fanatik Ahok, dan apa yang akan saya tulis di post ini mungkin dapat ditafsirkan oleh beberapa pihak menjadi suatu hal yang sensitif. Jadi, saya mohon dengan sangat untuk memahami bahwa post ini bersifat opini, dari situ, saya mengharapkan sifat kritis masing-masing pembaca.

Begini keadaannya, jadi gua ini gak bener-bener tau apakah gua telah terlalu dibutakan oleh euforia Ahok atau memang Ahok adalah sesosok figur yang telah tertanam dalam persepsi gua selama ini adanya. Ya gimana ya, bingung sih masalahnya Ahok ini dimata gua adalah sosok yang mendobrak anggapan skeptis gua pribadi terhadap tokoh panggung politik. Beliau sejauh ini sangat hebat di mata gua, dan lebih baik lagi, beliau itu nyata, ada. Dan dalam tulisan ini, gua akan mencoba untuk menuangkan persepsi gua soal sosok Ahok dan apa yang terjadi.

Jadi, kenapa gua nulis post ini? Begini awalnya.

Gua adalah salah seorang yang cukup getol mengkampanyekan Ahok dalam lingkaran kecil pertemanan yang gua punya, walaupun gua gak ikut nyoblos di Pilkada DKI karena domisili Bogor. Nah jadi kurang lebih temen-temen gua, yang sangat sedikit itu, tau bagaimana tepatnya pandangan gua terhadap 3 cagub beserta wakilnya. Setelah hari pencoblosan, gua kaget kok temen gua ada yang nyoblos Anies, dan akhirnya dengar punya dengar, dia bilang "gua kurang lebih puas sama kinerja Ahok selama menjabat di DKI, tapi gua gasuka dia orangnya kasar, pemimpin seharusnya gak begitu." Dan ada juga temen gua yang mengambil sikap anti Ahok karena kasus penodaan agamanya, atau tukang gusur, tukang bikin gaduh, dan tentunya ada juga beberapa yang gak milih Ahok karena takut dosa.


.................


Yak mungkin preferensi dalam memilih itu memang hak masing-masing, tapi yang namanye kampanye ya kampanye, yang jago kampanye ya kemungkinan besar bisa ngeraup suara. Dari situ gua simpulkan bahwa gua perlu nulis post ini, setidaknya gua telah mencoba untuk berperan sedikit aktif dalam menentukan apa yang menurut gua baik bagi negara ini.

Semua tau kalo yang memiliki anggapan seragam dengan temen-temen gua diatas itu gak sedikit, dikarenakan sosok Ahok itu sendiri yang kadang memang cukup kontroversial.

Okeh jadi begini. Gua gak nanya ke temen gua secara langsung sih menyangkut pilihan mereka dalam Pilkada DKI beserta alesannya, soalnya kebanyakan kalo udah diajak ngomong politik pada diem, kesian deh Indonesia. Jadi, sebelomnya maap-maap dulu nih ke temen-temen gua yang merasa diomongin diatas, ane punya pertanyaan, ente sadar gak sih ente itu kemungkinan besar adalah korban kampanye orang? Ya mungkin gua juga korban kampanye, tapi yang jelas bukan kampanye Ahok atau 2 calon lain, karena gua udah mantengin Ahok dari dulu kasus UPS lewat media arus utama. Jadi kalo gua emang korban kampanye, ya gua korban kampanye media yang seharusnya menyampaikan fakta semata, dan kampanye yang gua telan adalah kinerja dan kejadian-kejadian di lapangan dalam kurun waktu yang gua rasa cukup untuk tahu siapa sebenarnya sosok Ahok itu, bukan sekedar kampanye pesta demokrasi yang diadakan h-beberapa bulan pencoblosan yang tentunya sudah dipoles dan dibumbui.

Kita urai satu-satu ya, sekarang kita bahas dulu soal Ahok orangnya kasar.

Jadi, gua anggep orang yang menganggap petahana itu orangnya suka ngomong kasar, gapunya etika dan sebagainya, adalah orang yang gapernah baca berita, paling banter baca di Line News atau jarkoman grup Whatsapp, pendek kata, cetek. Sekarang gini, ente misalkan ngerjain ujian nih, terus ente salah satu tuh pas ujian, ente langsung dapet nilai nol gak? Mampus aja dunia kalo sistemnya emang begitu, kaga lulus aja semua. Paham?

Jadi kenapa gua bilang orang yang bilang Ahok ini kasar dan sebagainya itu gapernah baca berita? Yang mereka tau cuma kasak kusuk soal omongan Ahok yang ini itu, yang 'jelek-jelek'nya aja karena pola yang gua perhatiin yang gampang viral itu yang 'jelek'. Banyak yang gabisa lupa sama kejelekan suatu hal sampe-sampe dia sepenuhnya tutup mata alias nilainya jadi nol. Kalo gua perhatiin di berita, disamping kepribadiannya yang keras, Ahok ini adalah sosok yang jujur dan seorang yang memang mengabdi kepada negara, ya walaupun pandangan ini emang sifatnya subjektif ya, tapi darimana kesimpulan itu lahir? Pertama tentunya diliat dari perkembangan pembangunan Jakarta dari mulai: (1) infrastruktur, kaya misalkan RPTRA, proyek mrt, flyover, normalisasi sungai dan gua rasa temen-temen gua orang Jakarta lebih paham soal ini daripada gua sendiri; (2) pendidikan, yang jelas-jelas KJP gausah dijelasin lagi fungsinya apa, dan menariknya, sejauh ini yang gua petik dari berita sih KJP bener-bener jalan, entah bagaimana dalam praktek nyatanya di masyarakat; (3) reformasi birokrasi, dari sikap tegas menindaklanjuti pns yang kerjanya gabener (yang mungkin juga melahirkan stigma bahwa Ahok ini kasar gapunya hati), penggunaan sistem online dalam menyusun anggaran sampai ke berbagai macam hal kaya KJP juga demi tercapainya transparansi dan antisipasi KKN, sampe ke konflik dengan DPRD gara-gara nyetor RAPBD 2015 ke Mendagri tapi yang disetor bukan yang udah dibahas sama DPRD, tapi versi eksekutif yang dipotong sampe entah gua lupa berapa triliun karena ditemukan anggaran siluman, dan; (4) budaya, oke ini yang menarik dan bakal cukup panjang gua bahas.

Budaya, jadi dalam hal budaya ini, Ahok juga telah melakukan pembangunan, lewat apa? Banyak testimoni PNS di pemprov yang mengatakan kalo kerja sama Ahok itu harus beneran kerja dan gabisa curang-curangan, entah testimoninya memang fakta atau bukan, tapi dari testimoni tersebut, dapat dipetik kesimpulan bahwa budaya kerja di pemprov DKI itu sendiri sudah berkembang dibawah kepemimpinan Ahok. Selain itu, gua inget waktu debat paslon 1 sempet nyerang Ahok waktu bahas soal wanita. Paslon 1, gua lupa detailnya seperti apa, kalo gasalah bilang "Ahok ini sudah menyakiti/mempermalukan kaum wanita di depan umum" mengacu kepada insiden saat Ahok marah-marahin ibu-ibu di depan wartawan. Jadi, buat yang belom tau kasusnya seperti apa, Ahok ini kan, entah sebutannya apa, ngadain sesi pengaduan warga gitu tiap pagi sebelom ngantor selama setengah jam, nah pada suatu pagi datanglah seorang ibu-ibu yang ujung-ujungnya dimarahin Ahok. Selidik punya selidik, si ibu ini 'meng-uang-kan' KJP anaknya dengan cara kongkalikong sama si penjual. Kalo gua sih jelas paham kenapa Ahok marah-marah, program kerja yang udah dia susun demi pembangunan pendidikan, demi anak sekolah, malah dimanfaatin sama orang tua yang entah mengapa kemungkinan besar tidak sepeduli Ahok dalam hal pendidikan anaknya. Ya mungkin si ibu atau keluarganya kelaparan atau gimana, tapi bu, rela nanti anak ibu sama cucu ibu nasibnya sama kaya ibu? Kalo rela ya saya heran ibu kenapa berani punya anak, tapi kalo gak rela ya itu anak ibu harus sekolah, titik. Apakah buruk memberikan koreksi yang dampaknya masif di depan umum demi kebaikan? Kalo gua pribadi menganggap hal itu perlu, kalo Ahok gak marahin itu ibu-ibu, gua heran seheran-herannya kok dia bisa ada di posisi setinggi itu. Kompromi dalam bermasyarakat emang perlu, tapi kalo kesalahan dibiarin terus, kebodohan diabaikan, kapan masyarakat ini bisa belajar? Kapan kita bisa tau apa yang lebih baik? Dengan tindakan Ahok tersebut, gua kira masyarakat kurang lebih bisa paham apa yang bakal terjadi kalo 'macem-macem' terus ketauan Ahok.

Nah kita lanjut ke pembangunan budaya, jadi disamping apa yang udah gua tulis di atas, yang paling menarik adalah soal normalisasi sungai, atau lebih akrab disebut 'menggusur'. Kebetulan gua baru dapet materi ini kemaren di kelas dan gua rasa sangat perlu dituliskan disini. Jadi, Ahok banyak dapet citra negatif dari 'penggusuran' yang tentunya merupakan salah satu senjata kampanye pihak-pihak seberang. Jadi materi yang dosen gua lempar kemaren adalah budaya berpikir kritis, kenapa kita harus berpikir kritis? Hematnya adalah agar kita tidak tenggelam dalam false consciousness atau kesadaran palsu. Contoh nyata paling mudah dalam memahami apa itu false consciousness dapat disimak dari percakapan antara dosen gua dan seorang mahasiswa di kelas yang gua tulis dibawah.

Dosen >> D
Mahasiswa >> M

D: kamu suka nonton drama Korea?
M: enggak terlalu bu
D: tapi kamu nonton?
M: iya bu
D: kenapa?
M: kata temen saya cowonya ganteng-ganteng
D: terus? ganteng gak?
M: ganteng bu
D: kenapa mereka bisa dibilang ganteng?
M: *gabisa jawab*
D: nah itu false consciousness, kamu bisa bilang ganteng, kamu ngerasa mereka ganteng, semata-mata karena banyak orang bilang ganteng itu seperti itu, terus lama kelamaan kamu secara sadar mengartikan ganteng sama seperti orang-orang mengartikan ganteng karena kamu terbiasa dengan hal itu. Kenapa cantik itu harus ber-make up? Kenapa cewe harus pake parfum? Semua itu false consciousness kalo kamu cuma ikut-ikutan atau terbiasa dengan suatu hal dan menjadikan hal itu sebagai kebenaran. Sama juga kaya orang-orang di Kampung Pulo dan Bukit Duri sana, orang-orangnya terbiasa hidup kotor dengan sampah, banjir, mereka semua menganggap itu normal semata-mata karena mereka terbiasa dengan hal itu.

Kira-kira begitulah penjelasan dosen gua soal false consciousness walaupun percakapan persisnya bukan seperti itu. Nah disinilah letak dimana Ahok telah menjalankan pembangunan budaya, kayanya penjelasan dosen gua udah nyentil banget lah ya, udah terasosiasi dengan program normalisasi sungai punya Ahok banget itu kan. Jadi, dengan normalisasi sungai, Ahok ini selain berusaha meminimalisir atau mungkin menghentikan banjir rutin di Jakarta yang telah menjamur selama puluhan tahun, ia pun telah berusaha melakukan pembangunan budayanya melaluinya. Ia telah mencoba memberikan para warga 'korban gusur' arti baru soal kata 'layak' dan 'normal' dengan tindakan penyediaan rumah susun yang tentunya lebih higienis.

Yang mau puter lidah soal false consciousness dengan melempar argumen relativisme dipersilakan. Tapi inget harus kritis, jangan nyusun argumen dengan ambisi bikin kontra doang, oke? Terima aja kalo pindah ke rusun emang lebih layak daripada rumah di bantaran sungai, daerah banjir, banyak sampah, udah terima aja itu kenyataannya.

Jadi kalo banyak kampanye yang bilang Ahok ini tidak memperhatikan aspek sosial dan budaya dalam mengambil keputusan, ya monggo rumah kamu kebanjiran dan banyak sampah juga coba dirasa, abis itu pikir ulang siapa yang lebih berbudaya.

Jadi, gua resmi menyatakan bahwa orang yang puas dengan kinerja Ahok tapi tidak memilih Ahok karena dia orangnya kasar, tukang bikin gaduh, tukang gusur, adalah orang yang tidak objektif dan memiliki kecenderungan sifat emosional yang mengindikasikan bahwa orang tersebut cenderung tidak berpikir kritis.

Selanjutnya, soal penodaan agama. Sebelumnya, ingat ini adalah tulisan opini, dan hak menyatakan pendapat itu diatur dalam pasal 28E ayat (3) UUD 1945, karena ini tulisan publik dan bukan tidak mungkin dilaporkan jika ada pihak yang tidak setuju, silakan laporkan saya ke polisi atas dasar pasal apapun, saya rela karena hal tersebut dapat menunjukkan betapa benarnya saya.

Kasus penodaan agama Ahok dapat dirangkum menjadi 1 frasa, politisasi hukum, atau 1 frasa lain, keadilan sentimentil. Oke gua pernah berdebat dengan seorang teman soal hubungan antara politik dan hukum yang berujung dengan gua dibilang naif karena menganggap 2 hal tersebut tidak seharusnya berhubungan dalam hal praktikal. Maksud gua disini adalah, proses hukum seharusnya bukanlah suatu hal yang dapat diintervensi oleh bentuk kepentingan apapun, termasuk politik, bukan bentuk dari hukum itu sendiri. Dan sepertinya temen gua udah terlalu sering digampar realita sampe-sampe gatau apa bedanya naif dan ideal. Seringkali emang bersifat ideal itu dianggap naif, tapi bukan berarti kita harus selalu bersikap menerima nasib dong? Hidup macam apa yang tidak berusaha mengejar cita-cita? Manusia aja bakal ilang arah kalo gapunya satu hal pun untuk dikejar, apalagi negara toh?

Jadi, ya, menurut gua kasus penodaan agama Ahok itu merupakan hasil politisasi, kriminalisasi. Gua udah berusaha keras untuk bersikap sekritis mungkin disini, tapi gua pribadi tetep gabisa ngeliat Ahok telah melakukan penodaan agama. Oke sebenernya gua bisa ngerti kenapa banyak orang panas ngedenger Ahok ngutip surat Al-Maidah, dan gua juga bisa ngerti kesaksian saksi ahli dari seluruh sidang yang udah lewat. Tapi kenapa gua tetep mikir kalo ini kriminalisasi? Karena waktunya itu terlewat ganjil. Gampangnya gini aja deh, Ahok juga ngutip surat Al-Maidah di bukunya Merubah Indonesia yang udah terbit jauh sebelom kasus penodaan agama ini ada, selain itu, sesuai dengan kesaksian Rizieq Syihab di sidang terakhir, Ahok juga pernah mengutip surat yang sama di stasiun tv Al-Jazeera juga sebelum kasus ini ada. Kalau memang apa yang disampaikan Ahok di Kep. Seribu merupakan sebuah penodaan agama, kenapa tidak ada laporan sebelumnya saat buku Ahok sudah dipublikasi? Atau saat beliau di wawancara di tv Al-Jazeera? Kenapa tiba-tiba ada laporan waktu menjelang Pilkada? Kenapa beliau naik status jadi terdakwa waktu masih fase pilkada juga? Jadi, gua simpulin, selama putusan belum keluar (karena gua berusaha sebaik mungkin untuk percaya dan menghormati putusan dan proses hukum di Indonesia, demi suasana kondusif dalam pembangunan masyarakat dan negara, dan gua notabene cuma mahasiswa semester 4 jurusan sastra yang suka menyimpulkan banyak hal yang salah pula), kasus Ahok ini adalah kriminalisasi.

Jadi sebenernya ada 2 cabang konspirasi kriminalisasi sih yang ada di kepala gua. Pertama ya jelas yang lembaga hukum Indonesia ini masih rentan intervensi, dan yang versi ini intervensi hukumnya dilakukan oleh massa yang tidak sedikit jumlahnya seperti yang dapat kita lihat kembali dalam aksi 411 dan 212, maupun oleh beberapa oknum yang mungkin memiliki kekuatan untuk melakukan intervensi. Dan versi kedua entah mengapa gua sempet kepikiran kalo negara sengaja menyeret Ahok ke pengadilan untuk menunjukkan seberapa tidak salahnya Ahok itu dan seberapa salahnya massa itu, ya, gua juga fans Jokowi dan baru kali ini gua sujon sama pemerintah.... Dan ya pikiran-pikiran konspiratif ini emang gak sejalan sama ikrar ideal hukum yang udah gua tulis di atas, tapi, ya inilah hasil berpikir dari lebih dari satu sudut pandang. Maaf pak Jokowi, tapi ini cuma sekedar buah pikiran dan saya tidak memiliki maksud memfitnah dengan cara menyampaikan sesuatu tanpa bukti maupun dasar.

Dan kalo memang proses hukum Ahok itu dijalankan secara jujur sejak penyelidikan sampe sidang ke 12 kemaren, dan putusan menyatakan Ahok bersalah nanti, maka kasus penodaan agama oleh Ahok ini mengacu kepada frasa keadilan sentimentil. Masyarakat sudah lupa apa itu toleransi, masyarakat sudah terlewat dibutakan oleh sentimen sampai lupa bahwa sentimen yang mereka anut itu sendiri pun menggaungkan sifat pemaaf dan tolerir. Masyarakat terlalu sensitif sampe gasadar udah jadi kacang lupa kulit.

Sekarang sudah terlihat betapa fanatiknya gua terhadap pak Basuki? Percayalah beliau telah dan akan menorehkan sejarah baru untuk menentukan tolak ukur rasionalitas masyarakat Jakarta pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Maju terus Pak Ahok!




Mohon maaf bila ada kesalahan faktual seperti data ataupun kesalahan lain, saya terlalu malas untuk mencari dan membaca ulang referensi, karena ini hanya sekedar tulisan iseng remeh temeh. Terima Kasih.

0 comment(s):

Post a Comment