01 May 2017

Sesi Curhat Jokowi #1

Oke gua tau mungkin orang yang udah hatam soal politik layar belakang udah ngeliat pola ini dari taun lalu, tapi ya gapapa lah ya kita coba-coba aja buat prediksi siapa tau bener kejadian kan, jadi keren deh ntar. Oke jadi, sebelom dilanjut, mohon baca artikel yang linknya udah gua cantumin di bawah. Itu ada 2 link, artikelnya sama aja, cuma yang tirto.id itu bahasa Indonesia, yang theintercept.com itu versi inggrisnya.

https://tirto.id/investigasi-allan-nairn-ahok-hanyalah-dalih-untuk-makar-cm2X
https://theintercept.com/2017/04/18/trumps-indonesian-allies-in-bed-with-isis-backed-militia-seeking-to-oust-elected-president/

Jadi gua sempet shock berat abis baca artikel itu, karena wey itu aduh gimana ya. Semua hal itu selama diberitain tuh ya kaya pecahan-pecahan terpisah aja, tapi ternyata semuanya nyambung... Walaupun belom ada konfirmasi dari pihak yang berhak untuk mengkonfirmasi soal keakuratan artikel itu, tapi coba dibaca dan dicerna baik-baik. Rantai kejadiannya masuk akal, kronologinya pas, tokoh-tokoh terkait gelagatnya kurang lebih sama persis dengan yang ditulis di artikel. Buat gua pribadi sih gua gapunya alesan buat gak bilang artikel itu kemungkinan besar bener, malah gua yakin betul kejadiannya emang begitu, tapi yaudahlah ya tulisan tentang politik bisa aja bermuatan politis juga kan, jadi ya gatau sih.

Nah dalam pos ini, gua mau coba bikin prediksi atau tebakan atau analisis atau apaapun yang sekiranya cocok seputar apa yang telah terjadi tapi tidak dicantumkan di artikel itu berikut dengan apa yang mungkin terjadi kemudian.

Oke pertama-tama, kita harus mulai dari pertanyaan-pertanyaan dulu karena gua sebenernya bingung mau nulis apa tapi pengen banget nulis tentang ini yaampun.
1. Allan Nairn dapet info dari mana?
2. Kenapa berita ini gak heboh? (atau gua aja yang kurang update?)
3. Kivlan Zein kenapa bisa-bisanya ngebocorin materi super sensitif sebanyak itu ke Nairn?
4. Beritanya bener apa enggak?
5. Pihak mana aja yang kena efek langsung dari berita tersebut? (baik berita tersebut benar maupun tidak benar)

Dan sebelom masuk ke bullshit yang mau gua tulis, untuk mengantisipasi miskomunikasi dikarenakan faktor teknik penulisan gua yang cuma selevel anak smp, gua akan menjelaskan beberapa skema penggunaan kata yang bakal gua pake. Jadi, garis besarnya tulisan ini adalah tentang Pemerintah vs. Oposisi. Gua bakal berusaha untuk seminimal mungkin menuliskan nama individu atau lembaga yang terkait secara frontal. Gua bakal lebih sering nyebut individu atau lembaga yang ada di pihak pemerintah sebagai pemerintah (atau istana, atau negara), dan yang ada di pihak oposisi sebagai oposisi (dengan asumsi kalo semua yang udah baca artikel yang gua cantumin di awal pos itu kurang lebih udah paham siapa ada di pihak siapa ─ berdasarkan post tersebut). Yak ini gua nulis apasih kok sumpah pas baca ulang kok aneh banget kaga ada jelas-jelasnya, mau diapus tapi sayang udah panjang-panjang.

Nah, jadi sebenernya inti yang mau gua tulis itu soal langkah yang diambil pemerintah, yang menurut gua justru jauh lebih cerdik dari apa yang telah direncanakan oposisi.

Oke sebentar deh ribet juga kalo gini, gua mau bikin batesan dulu disini. Jadi, untuk menulis post ini, gua harus menganggap bahwa tulisan Nairn itu bener, dan gua rasa kurang lebih kalo mau baca juga harus menganggap tulisan itu bener. Jadi ya, kalo misalkan ada yang ngerasa tulisan Nairn itu bohong, menurut gua gabakal sejalan sih. Jadi, ya... kalo kata gua sih kalo ngerasa tulisan Nairn itu gak bener, ya mending gausah dilanjut bacanya. Atau mungkin ada yang bisa ngasih bukti kalo tulisan Nairn itu salah, ya monggo hubungi saya.

Oke kita lanjut. Kita mulai dari pertanyaan pertama: Nairn dapet info darimana?

Ini gua agak kurang paham sih ini soal menyoal jurnalistik, maksudnya apakah dengan wawancara 1 atau 2 orang itu udah dapat dianggap sebagai suatu yang faktual? Gua gapernah tau parameternya dan gua merasa satu-satunya jalan agar berita dapat disebut faktual atau tidak itu dengan menilai substansi dari berita itu sendiri. Ya subjektif sih emang, ya tapi gimana dong walaupun disitu ditulis sudah dikonfirmasi oleh pihak sana sini dan lain-lain kan tetep aja gua gaada disitu pas wawancara, tapi mau dibilang gak percaya juga enggak soalnya kalo misalkan gak percaya mah ini tulisan kaga bakal ada. Jadi ya, ini rumit. Aduh au ah bodo.

Jadi di satu sisi gua percaya artikel itu, tapi disisi lain masih sedikit meragukan beberapa bagian yang rapuh karena kurang penjabaran mungkin. Nah itulah kenapa gua bilang faktual atau tidaknya itu dinilai dari substansinya, walaupun ya begitulah udah kepanjangan ntar yang ada.

Jawaban yang gua mau dari pertanyaan "Nairn dapet info darimana?" itu bukan mengacu pada individu atau lembaga secara spesifik, tapi lebih ke "dari pihak mana?" dari istana atau oposisi? Ituloh maksud gua. Nah kalo mengacu ke artikelnya itu sendiri sih, Nairn emang menginvestigasi kedua belah pihak ya, tapi pasti ada pemantiknya dong, masa iya dia tiba-tiba tau harus wawancara Soleman B. Ponto atau Khaththath atau siapa pun yang ada di artikel itu, yang berkomentar atau menolak berkomentar. Pasti ada orang tepat pertama yang dia wawancarain kan sebelom dia tau harus wawancara siapa lagi? Atau ada clue pertama dalam bentuk apapun, iya gak? Ya gua sangat awam sih dalam praktik jurnalistik begini, tapi gua yakin banget Nairn ini pada mulanya dapet setidaknya satu informasi bagus sebelum akhirnya berkembang jadi artikel segila itu dengan informasi yang kayanya setingkat sama laporan intelijen. Dan gua yakin satu informasi itu berasal dari entah istana atau oposisi, begitu maksud saya.

Nah, sebelom lompat ke jawaban pihak siapa yang ditemui Nairn pertama kali, di artikel itu juga Nairn jelasin kalo dia dapet dokumen dari polisi, militer, intelijen Indonesia dan bocoran Snowden, dan dia juga bilang yang soal demo itu diambil dari 5 laporan 3 agensi pemerintah. Tapi toh dia gak jelasin secara jelas kan metode yang dia pake gimana? Hematnya, kita gatau apakah Nairn dapet dokumen itu hasil "nyolong" atau nyuap oknum atau emang dokumennya bersifat terbuka untuk publik/jurnalis atau dibocorin oknum. Nah itulah kenapa gua masih nyelipin pertanyaan "Nairn dapet info darimana?" walaupun di artikel dia udah jelasin tulisan dia disusun dari apa.

Kalo gua pribadi ─ sebagai orang yang mempercayai hampir semua penjelasan soal kejadian yang ada di tulisan Nairn itu ─ berdamai dengan jawaban: Istana sengaja bocorin itu ke Nairn.

Kenapa Istana?

Yang pertama, yang paling simpel walaupun terdengar agak sentimentil dan apologetic, artikelnya udah jelas-jelas ngumbar kebusukan pihak oposisi (walaupun pada saat yang bersamaan juga menunjukkan beberapa oknum jorok di pihak pemerintah itu sendiri). Tapi kalo masalah nunjukkin mana yang busuk mana yang enggak, sebenernya tulisan Nairn itu bukan mojokin oposisi dalam kancah politik, tapi lebih ke jenderal aktif maupun nonaktif TNI. Ya walaupun emang disitu polanya pentolan kubu oposisi rata-rata berasal dari tentara, baik yang masuk dalam parpol atau tidak. Tapi tetep gak adil sih kalo mukul rata tentara = oposisi karena toh kita gatau juga kan dalam TNI ada apa, mau nuduh salah satu angkatan pun kayanya gak bijak juga. Jadi, kita tetep berpegang sama nama-nama yang ada dalem artikel aja ya, gaada spekulasi soal keterlibatan lembaga yang dibawahi nama tersebut, okeh?

Yang kedua, informasinya terlalu sensitif untuk dibocorin siapapun tanpa seijin negara, maksudnya: ini info sifatnya terlalu sensitif karena melibatkan banyak nama yang masih dalam tahap penyelidikan (atau penyidikan mungkin? Gua gak inget dan gatau perkembangan soal status dari semua nama-nama) yang entah dasarnya memang benar telah diduga melakukan tindak pidana atau DIbuat menjadi terduga tindak pidana. Bahkan ada juga 1 nama yang udah jadi terdakwa yang lagi nunggu putusan hakim. Selain itu, gabisa dipungkiri juga kalo artikel itu nyantumin nama-nama besar panggung politik. Setidaknya dalam artikel itu ada 4 nama ketua umum partai, kalo gak salah itung.

Yang ketiga dan yang terakhir, coba kita puter ulang memori seputar kejadian dan kronologi dinamika politik dalam 1 semester terakhir. Aksi besar pra pilkada dibagi jadi 3 kan ya: 1) 411 (4 November 2016, dimotori FPI dengan pentolannya Habib Rizieq); 2) 212 (2 Desember 2016, juga oleh FPI walaupun cuma berujung jumatan sambil mandi ujan); dan 3) 313 (31 Maret 2017, dimotori FUI atau Forum Umat Islam dengan pentolannya Muhammad Khaththath). Nah yang harus kita inget dari ketiga aksi besar tersebut itu adalah beberapa kejadian sesudah dan sebelum demo. Inget soal safari politik Jokowi sebelum dan sesudah 411? Inget Jokowi malah 'blusukan' ke Halim waktu 411? Inget waktu subuh 2 Desember 2016 Kivlan Zein dkk. ditangkep karena tuduhan makar? Inget Jokowi dateng ke 212? Inget banyak yang ngelaporin Rizieq makanya demo 313 dipegang FUI? Dan inget juga Khaththath ditangkep sebelom demo 313? Kalo inget, masuk akal kan rantai kejadian yang ada di tulisan Nairn?

Jadi, penjabaran yang ketiga soal kenapa info milik Nairn ini dibocorin negara adalah, berdasarkan kronologinya, spekulatif, pihak istana sudah mengetahui jauh-jauh hari gelagat Massa yang mau berangkat demo 411 dan mungkin udah tau pula siapa aktor intelektual yang ada di belakang aksi tersebut. Dari situ, Jokowi berangkat safari politik dalam rangka konsolidasi, dan salah satu tokoh yang ditemui sebelom demo adalah Prabowo Subianto ─ yang dalam tulisan Nairn digadang-gadang merupakan salah satu sponsor demo ─ dan entah apa yang dibicarakan Jokowi dan Prabowo pada waktu itu, mungkin bisa aja ngomongin soal aktor-aktor lapangan dalam aksi, atau mungkin Prabowo ngebocorin semuanya ke Jokowi, entahlah otak awam gua gak mampu nemuin jawabannya. Yang jelas ujung-ujungnya waktu 411 Jokowi yang dikenal down to earth entah ada dimana (sebagai tindakan antisipasi yang entah karena intelijen negara sudah mendapatkan informasi penuh soal kemungkinan upaya kudeta atau sekedar atas dasar keparnoan). Dan setelah aksi 411, Ahok ditetapkan jadi tersangka (yang tentunya sangat janggal, berkas yang biasanya ditangani dalam setidaknya 2 bulan bisa p-21/selesai dalam 2 minggu). Tindakan penaikan status Ahok ini merupakan bentuk strategi pengamanan kedaulatan pemerintah (walaupun ini sujon) yang lagi ketar-ketir karena takut ditendang dari istana (dan menurut gua penumbalan Ahok disini memang merupakan keputusan pait yang harus diambil, karena kalo enggak, menurut skenario yang ada di tulisan Nairn, kepemerintahan Indonesia bakal dikuasai oleh junta militer, sekali lagi tenggelam ke orde baru. Makin cinta deh sama Ahok). Dan setelah penetapan status Ahok, safari Jokowi terus berjalan, berlanjut ke pihak Islam, sebagai pihak yang berdemo. Status Jokowi pun sudah sedikit aman karena sudah menemui bayak pihak (atau musuh) sebelum aksi kedua digelar. Pada dinihari tanggal 2 Desember 2016, Kivlan Zein, Ahmad Dhani, Rachmawati Soekarnoputri, dll. ditangkep dan ditahan di mako Brimob dengan tuduhan pemufakatan jahat terhadap negara atau upaya makar. Dan karena kepala ulernya udah 'diamankan', Jokowi pede dateng ke aksi 212 karena 2 alesan yang berkaitan satu sama lain, pertama, Massa udah gapunya alesan buat melakukan tindakan diluar batas (tuntutan mereka terhadap Ahok sudah dipenuhi) dan kedua, pentolan-pentolan aksi sudah dipegang oleh negara, dimana itu berarti rencana dalam bentuk apapun dalam upaya kudeta tidak akan berjalan mulus karena syarat pertama sudah gugur, dan aktor yang dapat menggerakkan pun tidak hadir.

Oke soal posisi massa yang ikut aksi juga sepertinya harus dijelaskan terlebih dahulu. Jadi, massa yang berangkat dalam ketiga aksi bela Islam dalam beberapa bulan terakhir ini terbagi jadi entah berapa spektrum, dan gua akan berusaha untuk memetakan spektrum yang gua tau dari pengamatan melalui media beserta beberapa testimoni teman yang datang ke aksi damai. Spektrum pertama, gua berani bilang bagian ini adalah spektrum paling naif dan mungkin paling banyak, adalah massa yang justru berangkat dengan alasan paling mulia ─ perkara prinsip/ideologi atau agama, ─ yaitu adalah massa yang rela datang benar-benar dalam rangka membela agama mereka yang telah 'dihina' oleh seorang yang tidak termasuk dalam golongan mereka sendiri, tanpa tahu bahwa opini publik itu bisa dibentuk oleh pihak yang punya cukup kekuatan untuk melakukan itu, sedangkan hukum adalah hal yang sama sekali lain dengan opini publik, dan lupa satu hal yang paling penting, bahwa mereka hidup di negara hukum. Spektrum kedua, massa bermuatan politis dalam konteks pilkada, yaitu adalah massa yang mungkin dikerahkan oleh parpol maupun anak cabangnya yang entah ada berapa atau datang dengan kemauan sendiri dengan maksud kampanye agar petahana tidak menang dalam pemilihan yang akan datang. Spektrum ketiga, adalah massa yang dateng tanpa memiliki maksud apapun kecuali untuk datang, atau dengan maksud yang tidak ada hubungannya dengan konteks yang relevan (misal: iseng, pengen dapet duit, pengen dapet makan, disuruh atasan, dll.). Dan spektrum terakhir adalah massa (atau mungkin kelompok, karena mungkin jumlahnya sangat sedikit) yang mengetahui agenda sebenarnya dari aksi tersebut. Dari keempat spektrum yang sudah dijabarkan, kalo emang kejadiannya bener kaya yang ditulisin Nairn, cuma spektrum terakhir doang yang bener-bener tahu apa yang mereka lakukan, sedangkan tiga spektrum sisanya cuma dimanfaatin oleh sekelompok kecil (kalo dibandingin sama jumlah massa yang turun) orang-orang parno terjebak nostalgia, beserta orang-orang disekitarnya yang bakal kecipratan untung kalo rencananya jalan. Jadi, kita gabisa nyalahin massa, bukan mereka yang bodoh, tapi orang-orang atas yang pinter.

Jadi, disitulah salah satu letak cerdasnya pihak istana, kalo Ahok gak langsung diproses hukum saat itu juga, massa bakal punya alesan buat gerak melawan negara yang 'tidak pro Islam', dan agenda para aktor intelektual mungkin dapat berjalan mulus pada 212 walaupun otaknya ditahan negara. Oke lanjut ke kronologi. Setelah 212, seperti yang ditulis di artikel Nairn, Rizieq pincang karena banyak laporan, makanya 313 gak dimotorin FPI. Dan pola 212 terulang kembali di 313, yaitu terjadinya penangkapan beberapa oknum (atau cuma Khaththath doang yang ditangkep? Ogut lupa) yang diduga akan melakukan upaya makar. Oiya sekedar intermeso buat yang gatau skenario kudetanya seperti apa, jadi rencana kudetanya itu sama kaya 98, yaitu bawa masuk massa ke dalem gedung DPR/MPR dengan cara yang banyak dibumbui improvisasi, dan setelah massa masuk, negara bakal kesulitan buat ngeluarin mereka, dan satu-satunya cara yang dapat berhasil adalah dengan memenuhi tuntutan massa, begitchu.

Nah dari penjabaran yang udah panjang lebar di atas soal kronologi dinamika politik selama kurang lebih 1 semester ke belakang, kita sampai kepada kesimpulan bahwa pihak istana lah yang membocorkan data ke Nairn, kenapa? Karena gini, sebelum bisa jawab apakah istana yang membocorkan laporannya ke Nairn atau bukan, kita harus tau dulu apakah istana punya datanya apa enggak, kan? Nah karena manuver yang diambil istana itu semuanya merupakan tindakan antisipasi gerakan kudeta, dari yang kecil kaya blusukan ke Halim, sampe yang besar kaya penangkapan beberapa nama, semuanya tindakan antisipatif, jadi, indikasinya, gua yakin seyakin yakinnya kalo bagian intelijen pemerintah udah megang data dan implikasi soal kemungkinan upaya makar oleh pihak oposisi melalui aksi damai. Udah setuju kalo istana udah megang data? Nah terus kenapa gua bilang kalo istana sengaja bocorin info ke Nairn kalo diulas dari segi kronologi? Bisa diliat dari kronologi kejadian dan tulisan Nairn itu sendiri.

Istana ketakutan.

Design dari rencana kudeta oposisi itu sebegitu mengerikannya, dan momentumnya pun sangat berpihak kepada oposisi.

Tapi sekali lagi, kenapa dibocorin ke Nairn kalo istana ketakutan? Gua gatau pasti kenapa, tapi kalo tebak-tebakan sih ada.

Jadi, gua menyimpulkan bahwa 5 laporan dari 3 agensi pemerintah yang didapat Nairn itu memang direstui oleh istana untuk dipublish, karena tindakan tersebut merupakan counter-attack-nya pemerintah atas gerakan oposisi. Negara berada di posisi dimana dia bisa bilang "oke lu punya grand design, oke lu punya massa, tapi jangan lupa gua adalah pemerintah yang berdaulat, yang dipilih melalui cara yang diatur lewat konstitusi, yang dipilih oleh rakyat, dan menyingkirkan gua secara paksa melalui cara yang tidak diatur dalam konstitusi merupakan tindakan melanggar hukum, dan gua adalah hukum". Jadi, gua anggap pemerintah punya sedikit skema perlawanan yang tidak kalah agresif dan tidak kalah jenius disini, yaitu melalui Allan Nairn.

Oke sebelum menuju jawabannya, ada sedikit selingan pendapat gua mengenai "kenapa Allan Nairn?" Jadi, gua gatau dan mungkin gaakan pernah tau jawaban yang sebenarnya. Tapi sejauh otak gua bisa nebak-nebak, kayanya pemerintah meninjau reputasi Nairn yang terkenal sebagai 'musuh para jenderal, mimpi buruk pemimpin totaliter.' Dari situ, pemerintah mungkin menganggap bahwa Nairn sekiranya cocok untuk memenuhi peran anti tesis dari pihak oposisi yang mayoritas diisi oleh petua militan dengan pola kepemimpinan totaliter ditinjau dari masa lalu masing-masing individu dan isu-isu yang mereka bangkitkan untuk dikonsumsi oleh massa. Selain pertimbangan reputasi, pertimbangan lain adalah antisipasi berita yang bisa kadaluarsa. Maksudnya, Nairn disini adalah seorang jurnalis luar negeri, dan artikel asli Nairn diterbitkan di media luar pula, dengan begitu, berita ini bisa jadi akan terus dapat diakses kecuali ada intervensi dari pemerintah luar yang terkait. Karena, asal tau aja, tirto.id pun udah dilaporin ke polda Metro Jaya oleh LBH Perindo, jadi, bukan tidak mungkin suatu hari nanti artikel Nairn yang ada di tirto.id bisa diblokir, karena media kita masih sangat sarat akan kepentingan politis. Walaupun mungkin sifat media dimanapun memang begitu adanya, tapi setidaknya kalo di media luar orang-orang kita tidak memiliki kontrol sebesar media dalam toh? Lagipula diluar sana media massa masih bisa berdalih dengan kuat melalui argumen kebebasan pers ini itu yang bakal bikin penggugat/penuntut mikir 2 kali buat maju ke sidang, karena penegakan hukum diluar sekiranya tidak semudah itu untuk dipenetrasi oleh kepentingan orang asing. Gua kira 2 pertimbangan tersebut sudah cukup menjelaskan kenapa pemerintah memilih seorang jurnalis asing untuk merilis laporannya.

Oke lanjut ke pembahasan. Gini, pertama-tama, kenapa pembocoran laporan 3 agensi pemerintah itu bisa jadi bentuk perlawanan terhadap oposisi?
1. Untuk memberi tahu massa tentang apa yang sebenarnya terjadi (oposisi main kotor).
2. Pembenaran atas tindakan atau keputusan yang telah diambil istana.
3. Sekaligus meminta maaf kepada pihak-pihak (masyarakat) yang merasa kecewa terhadap beberapa keputusan negara (kaya hasil simposium, freeport, munir, dll.).
4. Mencoba mengais simpati rakyat dan berharap rakyat berpihak pada negara dalam hal ini untuk melawan oknum-oknum bangsat masa lalu yang masih ada di pucuk kepemimpinan di negara yang bermimpi untuk menjadi suatu republik yang makmur.

Jadi, kunci yang dimainkan pemerintah melalui Allan Nairn adalah persepsi publik soal pergulatan politik yang terjadi dalam 2 tahun terakhir. Dalam skema ini, yang gua prediksi (tapi sejauh ini belom kejadian) adalah, masyarakat bakal heboh seheboh-hebohnya soal ini, dan media akan menjalankan peran sejatinya sebagai pihak yang menyampaikan kebenaran. Dari situ, media bakal bolak balik datengin setiap nama yang tercantum dalam artikel Nairn untuk meminta tanggapan atau konfirmasi soal artikel tersebut. Nah skenario dari situasi ini adalah jawaban dari pertanyaan nomor 5: Pihak mana aja yang kena efek langsung dari berita tersebut? (baik berita tersebut benar maupun tidak benar). Tapi sebelom bisa menjawab pertanyaan itu, kita harus menjawab pertanyaan nomor 2 terlebih dahulu: Kenapa berita ini gak heboh?

Dan karena sepertinya pos ini sudah kepanjangan, sekiranya sampai disini dulu, dan gua bakal berusaha secepat mungkin publish part 2, sumpeh aye on fire banget ini nulis.

Ciao.

2 comment(s):

Ramandhika said...

jangan lama lama den part 2

Deni Ghifari said...

Kalo Allah merestui ya ndi

Post a Comment