08 May 2017

Sesi Curhat Jokowi #2

Oke melanjutkan post sebelumnya, gua mau nulis ulang 5 pertanyaan yang jadi kerangka tulisan posts marathon ini dulu biar gak ribet.

1. Allan Nairn dapet info dari mana?
2. Kenapa berita ini gak heboh? (atau gua aja yang kurang update?)
3. Kivlan Zein kenapa bisa-bisanya ngebocorin materi super sensitif sebanyak itu ke Nairn?
4. Beritanya bener apa enggak?
5. Pihak mana aja yang kena efek langsung dari berita tersebut? (baik berita tersebut benar maupun tidak benar)

Nah karena di post sebelomnya gua sudah berusaha menebak-nebak apa yang terjadi dan menjawab nomor 1 (walaupun gatau bener apa kaga, dan kemungkinan besar kaga bener) sekarang kita bisa berlanjut ke pertanyaan berikutnya. Nomor 2: Kenapa berita ini gak heboh? Dan sekarang gua bisa jawab pertanyaan itu dengan yakin dan tanpa tebak-tebakan, karena ternyata sebenernya tulisan Nairn itu bukannya gak heboh, tapi belom heboh aja karena dalam seminggu terakhir mulai bermunculan tuh artikel-artikel yang bahas tentang Nairn, dan seperti prediksi yang telah gua tuliskan di post sebelomnya, media sekarang mulai ngejar-ngejar nama-nama yang terkait buat dimintain klarifikasi. Ih seneng deh tebakan gua bener dikit.

Sejauh yang gua tau, nama-nama yang berhubungan dengan tulisan Nairn yang udah diminta klarifikasi oleh media dalam negeri itu baru 2, dan satu lembaga memberikan respon.

Nama yang pertama itu panglima TNI, Gatot Nurmantyo, ya beliau menyebut apa yang ditulis Nairn itu hoax, dan beliau mengaku sangat pro terhadap kesatuan NKRI beserta pemerintah yang berdaulat. Baca artikel aslinya di

Nama yang kedua, tak bukan dan tak lain, nama yang sudah memberikan respon kepada reaksi media Indonesia terhadap tulisan Nairn itu adalah Allan Nairn sendiri, beliau mengklaim bahwa apa yang beliau tulis itu 100% benar dan valid, dan beliau juga mengaku bahwa sumbernya adalah puluhan jenderal dan 10 diantaranya masih aktif. Kutipan wawancaranya gua copy paste dibawah ya biar punya interpretasi masing-masing (walaupun ujung-ujungnya gua bakal nyuapin interpretasi gua juga)

"Apakah ini wawancara pertama soal isu makar ini?” tanya saya.

"Tentu saja,”  jawab dia. Ia menerangkan, dirinya datang ke Indonesia bukan karena permintaan saya  untuk mewawancarainya, tapi karena kebetulan ada sebuah acara yang harus ia hadiri di Indonesia.

“Kenapa Anda mengangkat topik soal makar terhadap Presiden Jokowi?” tanya saya lagi. Jawab Allan, karena ada banyak pelanggaran HAM yang belum ditindaklanjuti di Indonesia.

"Apa kaitannya dengan makar?” kejar saya. 

“Tak dituntaskan karena pemerintahan Jokowi takut akan digulingkan,” jawab dia.
"Anda sudah menyimpulkan, siapa narasumber Anda?" saya mengejarnya.

“Puluhan Jenderal, diantaranya sepuluh yang masih aktif!” jawab Allan.

Hmm..puluhan jenderal, batin saya. Rasa ingin tahu saya makin tergugah.


Melihat sepak terjangnya selama ini yang selalu berdiri berseberangan dengan tentara, bagaimana mungkin Allan bisa mendapat akses sedemikian luas di kalangan tentara?

Allan terlihat terkejut saat saya mengajukan pertanyaan ini. Ia tidak memberi jawaban jelas.

“Kompleks sekali alasan para Jenderal mau cerita kepada saya. Faktanya, saya mendapatkan berbagai sumber itu,” jawab dia singkat.

Kalo mau baca artikel aslinya, baca disini

Dan okeh, jelas apa yang dipikir sama Aiman (pewawancara) itu sedikit masuk akal, bahkan sangat masuk akal mungkin. Maksudnya, reputasi Nairn ini kan emang anti Jenderal, kok bisa dia dapet sumber sebanyak itu untuk menulis sesuatu yang bisa jadi bumerang penempeleng buat si sumber? Dan ya, Nairn menolak untuk menjelaskan secara rinci hal tersebut, aneh? Ya aneh lah.

Dari wawancara tersebut, lahir beberapa spekulasi seputar apa yang mungkin terjadi di antara Nairn dan sumbernya. Spekulasi pertama, Allan Nairn ini jurnalis yang setipe sama penulis novel fiksi Michel Houellebecq, yang doyan mencampur adukkan hal-hal faktual dan aktual dengan imajinasi, prediksi, dan cocoklogi (dan gua pribadi tentunya menganggap spekulasi awal ini bukan yang bener-bener terjadi). Spekulasi kedua, petinggi-petinggi tentara itu terbagi jadi dua kubu, kubu pertama berpihak pada istana dan kubu kedua pada oposisi. Spekulasi ketiga, Nairn ini jago hipnotis (mungkin aja toh?). Dan spekulasi terkahir, apa yang gua tulis di post sebelomnya (tentang negara yang ngebocorin ini ke Nairn), adalah apa yang sebenernya terjadi. Dan gua setuju sama diri gua sendiri kalo spekulasi kedua dan terakhir itu terjadi secara bersamaan. Maksudnya, ya mungkin individu-individu di kubu jenderal ini gak semuanya masa lalunya kotor, dan tidak akan dirugikan melalui kebijakan pemerintah soal menyoal mengadili pelanggar HAM masa lalu, dari situ, individu-individu tersebut merasa bahwa tindakan kudeta bukanlah suatu hal yang perlu, dan merupakan suatu hal yang salah jika didasari oleh kepentingan kelompok semata, terus mereka membelot deh ke kubu istana, terus istana koordinasi sama mereka buat beberin semuanya ke Nairn. Atau mungkin bisa juga jenderal-jenderal yang merupakan sumber Nairn itu, adalah jenderal-jenderal yang emang telah melakukan kejahatan HAM di masa lalu, tapi ngarep amnesti sementara (upaya cuci tangan), karena mereka ngeliat Jokowi baik ke orang-orang kaya Wiranto, Hendropriyono, beserta antek-anteknya, selama mereka bersedia pasang badan. Yak ini bahasan soal wawancara Nairn dan Aiman udah kepanjangan ini, kita balik ke bahasan post.

Dan yang terakhir yang telah memberi klarifikasi/respon soal tulisan Nairn adalah.... Polri. Yak monggo dibaca sendiri artikelnya

Nah, sudah sangat terlihat kan gimana Polri dan pak Gatot beda pendapat soal tulisan Nairn, dan respon yang diberi Polri itu kurang lebih udah gua jelasin di post sebelomnya di bagian tentang kronologi dinamika politik dalam 1 semester terakhir.

Dan respon Polri tersebut secara tidak langsung menjawab pertanyaan nomor 4: Beritanya bener apa enggak?

Jawabannya adalah, gatau boy, ntar aja tunggu penyidikan kelar yee...

Oke sebelom lanjut, pertanyaan nomor 2 udah selesai ya? Jawabannya: gua salah bikin pertanyaan, karena beritanya bukan gak heboh, juga bukan karena gua kurang update, tapi karena waktu gua nulis post Sesi Curhat Jokowi jilid 1 emang belom heboh aja, kelar ye nomor 2?

Karena pertanyaan nomor 3 itu terlalu rumit buat dipikirin, dan mungkin gua juga gamampu dan gabakal pernah mampu buat paham Kivlan Zein, kita lanjut ke nomor 4 dulu.

Nah kaya yang udah gua tulisin tadi, nomor 4 itu emang bisa dijawab, kita bisa tau apakah yang ditulis Nairn itu benar atau salah, beneran deh kita bisa tau apakah yang ditulisin Nairn itu emang seperti itu kejadiannya atau tidak, tapi gak sekarang, ntaran tunggu penyidikan di Polri kelar dulu, gitu. Ya mari kita berdoa disini kalo Polri berani pasang badan yah. Tapi kayanya kita gabakal tau dalam waktu dekat deh, mungkin hasil penyidikan Polri bakal raib ditelan bumi sampe akhirnya entah berapa taun lagi tiba-tiba muncul kembali, mungkin nanti waktu nama-nama yang ada di artikel Nairn udah mati semua, entahlah kapan.

Kalo dipikir ulang, ada sedikit plot hole nih dari argumen sekaligus analisa gua yang tentang negara sengaja membocorkan ini ke Nairn kalo dihubungkan dengan penyidikan Polri. Gini, kalo emang Polri udah masuk tahap penyidikan terhadap nama-nama terkait, dan suatu hari nanti semua orang ujung-ujungnya bakal tau juga soal kelakuan oknum-oknum pihak oposisi kalo hasil penyidikannya ditindaklanjuti, kenapa negara tetep sengaja ngebocorin hal ini ke Nairn?

Yang pertama, yang paling mungkin dan paling tidak diragukan lagi, istana dan Polri tidak cukup kuat untuk melawan oposisi, yang terdiri dari tentara dan kaum radikal yang entah berapa jumlahnya, itulah kenapa gua bilang mungkin hasil penyidikan Polri bakal raib tiba-tiba suatu hari nanti dan muncul kembali suatu hari kemudian waktu orang-orang yang bersalah udah lemah/mati, mungkin diikuti dengan pengadilan terhadap kejahatan HAM masa lalu. Ya tapi kita gatau kan, jadi doain aja lah. Nah karena istana kurang kuat, itulah kenapa dia lari ke Nairn, biar masyarakat tau yang sebenernya gimana, kaya yang udah gua tulis di post awal deh pokoknya:

Oke lanjut ke pembahasan. Gini, pertama-tama, kenapa pembocoran laporan 3 agensi pemerintah itu bisa jadi bentuk perlawanan terhadap oposisi?
1. Untuk memberi tahu massa tentang apa yang sebenarnya terjadi (oposisi main kotor).
2. Pembenaran atas tindakan atau keputusan yang telah diambil istana.
3. Sekaligus meminta maaf kepada pihak-pihak (masyarakat) yang merasa kecewa terhadap beberapa keputusan negara (kaya hasil simposium, freeport, munir, dll.).
4. Mencoba mengais simpati rakyat dan berharap rakyat berpihak pada negara dalam hal ini untuk melawan oknum-oknum bangsat masa lalu yang masih ada di pucuk kepemimpinan di negara yang bermimpi untuk menjadi suatu republik yang makmur.

Nah selain kaya yang udah gua tulisin disitu, jadi sekarang gua jelasin kenapa posts marathon ini judulnya Sesi Curhat Jokowi. Jadi, sebenernya yang gua tangkep dari komplikasi soal istana dan oposisi dan Nairn ini, posisi Istana ini lagi tergencet setergencet-tergencetnya. Jokowi lagi ada di posisi serba salah karena di satu sisi dia berniat baik mencoba untuk menunaikan janji kampanyenya (menyelesaikan kasus HAM masa lalu, yang mungkin sebenernya waktu nyapres Jokowi gatau kalo masalahnya ternyata bisa sekompleks ini), tapi malah berujung mau disundul dari korsi presiden, dan dihadapkan dengan fakta bahwa ternyata kekuatan demokrasi tidak sebesar itu. Tapi Istana tidak pupus pada fakta menyedihkan tersebut, karena pemerintah mencari-cari kesempatan dalam kesempitan nih, yaitu melalui Nairn. Jadi, melalui Nairn, istana ini sedang mencoba untuk mencuri strategi yang dipake oleh oposisi (menggunakan massa) dalam upaya menggulingkan Jokowi. Bagaimana? Seperti yang udah gua bilang di nomor 4 di atas, simulasi skenarionya gini deh biar gampang jelasinnya yah.

Negara digencet oposisi → negara ngasih bocoran ke Nairn soal kelakuan oposisi → Nairn Publish tulisannya → tulisan Nairn heboh di masyarkat → masyarakat mulai mandang buruk pihak oposisi (termasuk kaum radikal yang notabene udah dimanfaatin) → negara memerintahkan jangan ada spekulasi karena nama-nama yang terkait masih disidik oleh Polri (biar keliatan pasif dengan maksud menjinakkan pihak oposisi) → negara (atau Polri) secara sengaja gak nindaklanjutin para terduga upaya makar → masyarakat mulai gerah karena tidak ada penindaklanjutan → massa bergerak menuntut penindaklanjutan terhadap pihak oposisi → negara dengan sukarela bergerak, karena sudah didukung oleh massa → mungkin bahkan pengadilan HAM pun bisa dilanjut disini (ya tentunya gak semuanya ya, karena inget ada beberapa oknum yang masih duduk di jabatan strategis di istana) → menang telak deh istana

YAK 2 PARAGRAF AKHIR JANGAN DIANGGAP SEBAGAI FAKTA YA ITU TEBAK-TEBAKAN MENTAH, eh bahkan seluruh post pun isinya tebak-tebakan sih, yaudahlah ngerti kan ya ini post jangan terlalu dianggap serius ini isi kepala gua doang kok. Ya pokoknya mungkin skenario di atas itu salah satu skema yang pemerintah harap dapat terwujud melalui Nairn, tapi gatau ya kejauhan sih kayanya kalo gua pikir ulang, tapi ya gapapa lah manjang-manjangin post. Nah Jokowi itu berharap mendapat dukungan massa, karena massa bersimpati sama dia, bagaimana dia bisa dapet simpati massa? Curhat, lewat Nairn, gitu.

Oke lanjut ke bahasan soal plot hole kenapa negara tetep ngebocorin ini ke Nairn walaupun Polri sedang menyidik. Alasan kedua adalah, soal timing dan momentumnya. Coba perhatiin event penting yang bakal dateng dalam waktu dekat apa aja? Pilkada 2018, dan pemilu 2019 kan? Kalo pilkada kayanya kita coret dulu deh soalnya gua rasa itu berhubungan tapi tidak sevital pemilu. Jadi gini, ini gambaran kasar dan agak asumtif ya, figur besar kubu oposisi yang ada di panggung politik ─ sesuai dengan tulisan Nairn, dan maksud kubu oposisi disini bukan cuma oposisi politik (parpol) pemerintah ya, tapi figur kubu oposisi (yang mau makar kemaren) yang tergabung dalam parpol oposisi  ─ ada Prabowo, Hary Tanoe, dan SBY kan. Nah kalo dari tulisan Nairn, yang bisa gua petik, kalo salah satu dari kedua nama tersebut (SBY gak diitung karena udah jabat 2 periode) bisa menang di pemilu, antek-antek oposisi (jenderal-jenderal) bisa aman semua idupnya, atau setidaknya mendapatkan garansi minimal berupa aman dari pengadilan HAM selama 5 tahun. Nah disitulah titik kenapa istana memutuskan tetep ngebocorin ini ke Nairn, karena ada event pemilu ini, berhubungan dengan timing dan momentum.

Jadi yang gua maksud dengan timing disini itu begini: coba perhatiin itu artikel Nairn, baik di Theintercept maupun Tirto, rilis tanggal berapa? 19 April. Inget 19 April ada apa? Pilkada DKI putaran 2. Inget yang menang siapa? Pasangan yang diusung Gerindra dll. Inget Gerindra ada di kubu mana dalam artikel Nairn (atau setidaknya ketua umum parpol dan salah satu legislatornya)? Oposisi. Jadi, masih inget nanti 2019 ada pemilu? Bingung ya korelasinya apa? Sama dong.

Jadi gini, kita uraikan satu-satu, pertama soal tanggal rilisnya tulisan Nairn. Oke, Jadi kalo menurut temen gua, artikel Nairn itu bisa dipercaya, karena tidak ada kepentingan politik (dalam konteks pilkada DKI karena tulisan Nairn menunjukkan bahwa kasus Ahok itu cuma dalih buat makar, sedangkan kubu kontra petahana sering menggunakan argumen penistaan agama sebagai bahan kampanye). Argumen temen gua itu lahir karena dia melihat bahwa tulisan Nairn itu dirilis tanggal 19 April yang notabene adalah hari-h pilkada putaran kedua. Kalo misalkan tulisan Nairn rilis sebelom pilkada, jelas tulisan itu mudah dipertanyakan tujuannya, begitu, tapi argumen temen gua ini selingan doang yah bukan penjelasan tentang timing, karena gua merasa argumen temen gua ini wajib ditulis. Nah tulisan Nairn yang di Tirto cuma ada tanggal bulan tahunnya doang, gaada jamnya, kalo yang di Theintercept itu ada jamnya, tapi gatau itu menyesuaikan waktu setempat atau waktu mana, jadi kayanya argumen yang akan gua tulis ini agak kurang valid. Jadi gini, pilkada itu ajang yang sangat bergengsi, terutama pilkada DKI, karena dari pilkada, parpol-parpol ini bisa memetakan kecenderungan pemilih secara sistematis dan menghasilkan data yang dapat diandalkan untuk menjadi strategi dalam pemilu periode berikutnya. Nah, Jakarta ini bisa dibilang sebagai miniatur Indonesia dalam konteks kecenderungan pemilih. Jadi dalam sejarahnya nih, sejak pemilihan umum kepala daerah diberlakukan (dipilih lewat voting oleh rakyat), partai yang menang di pilkada DKI itu selalu menang di pemilu.

Nah, okeh, masih bingung juga hubungannya sama timing? Sama deh gaboong ini pas nulis kalimat ini gua bingung soalnya lupa tadi mau nulis apaan.

Oke jadi gini, soal pilkada DKI kita kesampingkan dulu dan akan kita munculkan di akhir argumen biar nyambung. Soal timing dan momentum, pemerintah (juga Polri, yang gua asumsikan masuk dalam kubu negara) ini gapunya waktu buat melawan oposisi melalui jalur hukum (penyidikan upaya makar) karena ya walaupun secara ideal memang harusnya aparat itu menegakkan hukum, tapi dalam kasus ini hukum itu bisa diganti semata-mata karena ada pihak yang cukup kuat untuk melakukan itu, itulah kenapa disini Polri posisinya lebih ke menjalankan amanat yang diberikan oleh negara, bukan oleh hukum itu sendiri. Karena gini loh, hukum itu kan berlakunya di negara nih, nah negara itu apa sih? Nah kasusnya disini sekompleks itu buat polri dan pemerintah. Maksudnya, kalo pemerintah sampe-sampe digeser secara paksa, hukum yang berlaku berarti udah dilanggar dong? Dan kalo upaya penggeserannya berhasil, pihak yang naik otomatis akan membenarkan tindakan penggeseran secara paksa tersebut dong? Dengan kata lain, kalo sampe pemerintah digeser secara paksa, maka hukum pun bisa lain bentuknya, nah kalo hukum udah lain bentuknya, Polri harus berpegangan kemana? Itulah dilema penegakan hukum di negara, kalo misalkan pihak yang kuat udah kegerahan dan memutuskan untuk bergerak mengubah bentuk negara menjadi yang lebih nyaman bagi dia, hukum macam apa yang berlaku? Ya hukum yang baru, jadi yang bener yang mana? Gitu. Nah itulah kenapa gua masih setuju-setuju aja kalo aparat penegak hukum itu masih digunakan untuk kepentingan suatu rezim, selama masih tau bates dan untuk kepentingan bersama, kaya yang dilakukan oleh rezim Jokowi ini. Maksudnya, mungkin aparat penegak hukum disini tidak digunakan secara ideal (menegakkan hukum) tapi lebih untuk kepentingan rezim berkuasa (karena Polri tidak akan bergerak kecuali diperintahkan oleh negara), tapi ya hal ini dilakukan demi kepentingan bersama.

Kenapa gua bilang ini demi kepentingan bersama? Karena coba bayangin kalo Polri dan istana ngotot-ngototan bersikap ideal dalam hal ini, apa gak mampus? Ya kalo gua sih lebih rela Polri semata-mata jadi alatnya rezim dalam mempertahankan kedaulatan deh daripada nyemplung lagi ke orde baru, ya asalkan jangan rezimnya kelewatan juga jadi ngelanggar konstitusi. Ya pokoknya intinya Polri itu akan sangat baik jika dapat menjadi lembaga ideal, tapi jangan jadi bodoh udah gitu aja. Nah disinilah letak persoalan timing dan momentum beserta hubungannya dengan Polri sebagai alat penegak kedaulatan dan pilkada DKI dan pemilu 19. Jadi, karena disini Polri dan istana bersikap bijak, mereka tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, terutama soal menyoal penyidikan pihak yang terduga melakukan upaya makar. Karena gini, aduh amit-amit dah ini ruwet banget pikiran gua pusing jelasinnya kaya orang mabok.

Jadi gini, soal timing, sebelumnya kita sudah setuju ya dalam kasus makar ini Polri berperan sebagai alat penegak kedaulatan negara, dengan kata lain, Polri bakal nurut sama apa yang negara perintahkan. Nah, karena dimensi yang dilibatkan banyak, dan dimensi politik adalah yang paling utama tentunya, kepentingan politik disini tidak dapat ditinggalkan. Dan melihat dari sisa periode jabat Jokowi, sepertinya penindaklanjutan soal terduga upaya makar yang terlalu terburu-buru itu bukan hal bijak untuk dilakukan, karena sekarang Jokowi punya banyak agenda soal penepatan janji-janji kampanye lain seperti pembangunan. Karena gini deh, bayangin kalo misalkan nama-nama tersebut ditindaklanjuti secepat mungkin, dan penyidikan selesai sebelum pemilu 19, apa gak naik pitam tuh orang-orang oposisi? Worst case scenario-nya bisa jalan lagi tuh agenda kudeta, dan best case scenario-nya mesin partai dan mesin apapun yang ada di pihak oposisi bisa dapet bahan kampanye yang cukup kuat semacem sentimen politik identitas yang terjadi di pilkada DKI (misalkan: kriminalisasi Rizieq Syihab → negara anti umat, kriminalisasi jenderal YANG telah mengabdikan hidup untuk negara, dan lain-lain, dan lain-lain sesuai dengan kreativitas timses oposisi). Padahal sekarang orang-orang di kubu oposisi lagi seneng abis menang pilkada DKI, dan kalo ditinjau dari track record pilkada DKI dan pemilu, salah satu figur pihak oposisi punya potensi untuk jadi presiden. Dan kalo salah satu figur tersebut berhasil naik jadi presiden, hidup semua antek-anteknya aman dong? Gak perlu ngejalanin agenda kudeta dong? Buat apa ngelakuin sesuatu yang sekarang merupakan tindakan inkonstitusional kalo misalkan ada jalan lain yang lebih aman dan emang patut dicoba?

Nah dari situlah kenapa pemerintah ngebocorin ini ke Nairn dari soal timing dan momentum. Akumulasi dari banyak faktor yang bergejolak di negara ini bikin istana gapunya opsi lain sebagus ngasih bocoran ke Nairn, kok bisa? Pertama, pemerintah harus menahan Polri dalam menindaklanjuti belasan nama yang terduga telah berupaya melakukan makar, karena pihak oposisi lagi adem ayem, dan bangunin singa tidur pake sate padang kayanya bukan pilihan yang bijak. Kedua, pemerintah cuma punya sedikit sisa periode jabat dan bukan hal yang bijak pula untuk memaksa Polri menindaklanjuti oknum-oknum makar sesegera mungkin. Disini pemerintah mengambil sikap live to fight another day, karena selain untuk kepentingan politik dalam pemilu 19, sikap yang diambil pemerintah ini gua rasa cukup bijak karena momentum tidak berpihak pada negara, dan mungkin entah bagaimana suatu hari nanti akan muncul momen dan waktu yang tepat bagi istana untuk mengambil langkah, dan itu entah kapan. Jadi gua rasa solusi terbaik satu-satunya adalah memperpanjang periode jabat sebisa mungkin (tanpa melanggar hukum) dan tetap menunggu hingga hari itu tiba.

Karena tindakan melalui Polri itu merupakan keputusan yang resikonya terlalu besar dan sangat berpotensi jadi senjata makan tuan, makanya istana lari ke media, ke Nairn. Istana mengklarifikasi tindakan dan keputusan bad for politics yang telah diambil dengan menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi, dan tindakan tersebut dibonceng oleh harapan masyarakat akan mengerti dan mempertimbangkan untuk memberikan kesempatan kedua bagi Presiden Jokowi.

Jadi, apakah kita bisa menjawab pertanyaan nomor 4? Secara resmi belum, bukan sekarang, dan entah kapan.

Ya semoga gua salah.

Bagian 3 bakal gua susun secepat mungkin.

Auf Wiedersehen.

0 comment(s):

Post a Comment