15 August 2017

Paradoks Revolusi Iran

Yak mohon maap marathon post yang sebelomnya gak dilanjut karena ada satu dan beberapa hal yang memperumit persoalan. Oiya mulai sekarang post gua bakal di post juga di UC media kalo lolos sensor, nanti tolong dibuka juga ya disitu biar gua dapet duit hehe nanti linknya gua copas kalo udah available. Jadi mohon maklum ya kalo mulai sekarang bahasa tulisannya lebih formal dari sebelomnya, dadah sumpah serapah. Dan sekarang gua mau nulis tentang Revolusi Iran, yang sebenernya gua sendiri masih kalang kabut, tapi bener-bener tertarik karena tiap gua ajak orang ngobrol gapernah ada yang tau apa-apa tentang Iran, jadi gua pengen keren sendiri deh belajar Iran. Oke mulai dari paragraf selanjutnya bahasanya formal ya, maapin kalo aneh.

Meningkatnya intensitas ketegangan perang urat syaraf antara Amerika Serikat dengan Korea Utara mengingatkan dunia tentang satu negara timur tengah yang telah dan masih bersitegang dengan Amerika selama lebih dari tiga dasawarsa, Iran. Iran merupakan negara yang terletak di seberang Arab Saudi, dipisahkan oleh Teluk Persia yang kaya kandungan minyak dan gas bumi. Malangnya, Iran merupakan negara teluk yang tidak semakmur negara teluk yang lain walaupun Iran memiliki cadangan minyak yang tidak kalah banyaknya. Dan salah satu penyebab ketidakmakmuran Iran adalah sanksi Amerika yang tiada berujung sejak tahun 1980.

Tindakan terakhir Amerika terhadap Iran adalah pengesahan Undang-Undang yang mengatur tentang pemberian sanksi baru. UU yang disusun oleh United States House of Representatives dan disahkan oleh eksekutif tersebut tidak hanya ditujukan kepada Iran, namun juga Rusia dan Korea Utara. Dan yang menjadi paradigma dalam pembahasan undang-undang tersebut lagi-lagi adalah tentang perjanjian nuklir Iran. Program nuklir milik Iran hingga kini tidak diketahui dengan rinci oleh dunia, dan hal tersebut disebabkan oleh sikap Amerika yang cenderung mengisolasi Iran dan pada saat yang bersamaan rezim Iran pun anti Amerika. Negara-negara dunia sepakat agar Iran menghentikan program nuklirnya, namun Iran berdalih bahwa program nuklir Iran bertujuan damai. Kesepakatan untuk pemberhentian dan pengawasan program nuklir Iran yang akan dilakukan oleh badan yang dibentuk PBB sebenarnya telah disepakati oleh kedua belah pihak (Iran dan Amerika Serikat) pada masa jabat Presiden Rouhani dan Obama. Namun dengan dilantiknya Trump pada tahun 2016 hal tersebut terancam batal, karena sentimen anti Amerika memang telah lama tertanam dalam Iran, lalu Trump dan DPR AS beserta kebijakannya hanya memperburuk sentimen tersebut. Iran pun membalas dengan diketuknya RUU yang mengatur tentang penambahan alokasi anggaran pengembangan rudal sebesar 520 juta dollar AS oleh parlemen Iran.

Perselisihan antara AS dengan Iran telah terjadi sejak Revolusi Iran pada tahun 1978-1979, dan dalam post ini penulis akan menjabarkan sedikit pendapatnya terhadap revolusi tersebut.