15 August 2017

Paradoks Revolusi Iran

Yak mohon maap marathon post yang sebelomnya gak dilanjut karena ada satu dan beberapa hal yang memperumit persoalan. Oiya mulai sekarang post gua bakal di post juga di UC media kalo lolos sensor, nanti tolong dibuka juga ya disitu biar gua dapet duit hehe nanti linknya gua copas kalo udah available. Jadi mohon maklum ya kalo mulai sekarang bahasa tulisannya lebih formal dari sebelomnya, dadah sumpah serapah. Dan sekarang gua mau nulis tentang Revolusi Iran, yang sebenernya gua sendiri masih kalang kabut, tapi bener-bener tertarik karena tiap gua ajak orang ngobrol gapernah ada yang tau apa-apa tentang Iran, jadi gua pengen keren sendiri deh belajar Iran. Oke mulai dari paragraf selanjutnya bahasanya formal ya, maapin kalo aneh.

Meningkatnya intensitas ketegangan perang urat syaraf antara Amerika Serikat dengan Korea Utara mengingatkan dunia tentang satu negara timur tengah yang telah dan masih bersitegang dengan Amerika selama lebih dari tiga dasawarsa, Iran. Iran merupakan negara yang terletak di seberang Arab Saudi, dipisahkan oleh Teluk Persia yang kaya kandungan minyak dan gas bumi. Malangnya, Iran merupakan negara teluk yang tidak semakmur negara teluk yang lain walaupun Iran memiliki cadangan minyak yang tidak kalah banyaknya. Dan salah satu penyebab ketidakmakmuran Iran adalah sanksi Amerika yang tiada berujung sejak tahun 1980.

Tindakan terakhir Amerika terhadap Iran adalah pengesahan Undang-Undang yang mengatur tentang pemberian sanksi baru. UU yang disusun oleh United States House of Representatives dan disahkan oleh eksekutif tersebut tidak hanya ditujukan kepada Iran, namun juga Rusia dan Korea Utara. Dan yang menjadi paradigma dalam pembahasan undang-undang tersebut lagi-lagi adalah tentang perjanjian nuklir Iran. Program nuklir milik Iran hingga kini tidak diketahui dengan rinci oleh dunia, dan hal tersebut disebabkan oleh sikap Amerika yang cenderung mengisolasi Iran dan pada saat yang bersamaan rezim Iran pun anti Amerika. Negara-negara dunia sepakat agar Iran menghentikan program nuklirnya, namun Iran berdalih bahwa program nuklir Iran bertujuan damai. Kesepakatan untuk pemberhentian dan pengawasan program nuklir Iran yang akan dilakukan oleh badan yang dibentuk PBB sebenarnya telah disepakati oleh kedua belah pihak (Iran dan Amerika Serikat) pada masa jabat Presiden Rouhani dan Obama. Namun dengan dilantiknya Trump pada tahun 2016 hal tersebut terancam batal, karena sentimen anti Amerika memang telah lama tertanam dalam Iran, lalu Trump dan DPR AS beserta kebijakannya hanya memperburuk sentimen tersebut. Iran pun membalas dengan diketuknya RUU yang mengatur tentang penambahan alokasi anggaran pengembangan rudal sebesar 520 juta dollar AS oleh parlemen Iran.

Perselisihan antara AS dengan Iran telah terjadi sejak Revolusi Iran pada tahun 1978-1979, dan dalam post ini penulis akan menjabarkan sedikit pendapatnya terhadap revolusi tersebut.

Iran merupakan satu-satunya negara Islam Syi'ah di dunia. Peradaban di wilayah Iran telah terbentuk selama ribuan tahun, dan era yang paling di agung-agungkan hingga kini adalah masa kerajaan Persia. Kepemerintahan monarki di wilayah tersebut telah berumur 2500 tahun tuanya, hingga pada akhirnya sistem negara kerajaan di Iran diputus oleh Revolusi Iran dan digantikan dengan sebuah Republik Islam. Dinasti terakhir yang memerintah kerajaan Iran adalah dinasti Pahlavi, dengan Shah (raja) Reza Pahlavi sebagai Shah terakhirnya. Shah Reza Pahlavi digulingkan oleh gelombang masif aksi rakyat yang dimotori oleh Ayatullah Ruhullah Khomeini dan beberapa tokoh agama lainnya.

Rezim Pahlavi dapat disebut sebagai rezim brutal seperti rezim diktator pada umumnya. Pada Era Pahlavi, kebebasan berpendapat sangat dikekang, pers dan media di sensor oleh negara, dan terdapat polisi rahasia SAVAK yang berfungsi sebagai alat doktrin milik Shah. Polisi Rahasia SAVAK menindak berbagai macam bentuk perlawanan terhadap Shah, baik dari tindak subversi konfrontatif hingga sekedar argumen kontra Shah dalam meja diskusi. SAVAK berfungsi "menetralisir" kubu seberang yang berpotensi membahayakan kelegitimasian Shah sebagai pemimpin Iran. Tindakan yang diambil SAVAK terhadap kubu seberang sangat beragam mulai dari dijadikan tahanan politik, disiksa, hingga di eksekusi. Pemerkosaan HAM yang dilakukan rezim Shah adalah salah satu penyebab kurang populernya Shah dalam masyarakat Iran.

Selain tindakan brutal yang diambil Shah dalam menjaga kekuasaannya, ekonomi Iran era Shah juga tidak dapat dibilang bagus. Harga bahan pokok yang melonjak pada tahun-tahun akhir kepemerintahan Shah merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya revolusi. Berbagai manuver ekonomi yang dilakukan kepemerintahan Shah gagal mencapai sasaran, seperti misalnya Revolusi Putih, yaitu suatu manuver ekonomi yang bertujuan untuk menghilangkan kuasa tuan tanah (feodalisme masih berdiri di Iran hingga tahun 60-an akhir dan 70-an awal) dan memberikan hak olah tanah sepenuhnya kepada petani. Refromasi tanah tersebut berujung buntung karena banyak faktor seperti buruknya irigasi, korupsi, distribusi tanah yang kurang adil karena beberapa integrasi antara sistem kepemilikan tanah secara tradisional dan konsep modern, serta kebijakan yang tidak tepat sasaran. Kebijakan land reform ini justru menjadi senjata makan tuan karena revolusi inilah yang menyebabkan tidak produktifnya sektor pertanian Iran hingga pada akhirnya biaya produksi pertanian dalam negeri kian meningkat sehingga menyebabkan harga produk pertanian dalam negeri menjadi lebih mahal dari yang diimpor. Devisa Iran semakin bergantung pada minyak setelah gagalnya Revolusi Putih tersebut, dan dengan kata lain, Iran tenggelam semakin dalam ke ketergantungan terhadap Amerika Serikat, karena minyak Iran memang telah dinasionalisasi, namun industri minyak merupakan industri mahal dan Iran tidak dapat mengolahnya sendiri. Dan jawaban dari kemahalan dan kesukaran soal pengolahan minyak adalah konsesi dengan negara lain yang mampu, dalam hal ini, dalam masa tersebut, AS adalah jawabannya.

Rezim Reza Pahlavi bersahabat dengan Amerika Serikat, merupakan salah satu jargon kampanye kubu oposisi dalam menentang Shah.

Sekiranya begitulah kurang lebih keadaan Iran pra-revolusi. Dan sebelum masuk ke dalam Iran pada era revolusi, penulis hendak menyampaikan sedikit pendahuluan untuk menghindari kesalahpahaman. Kronologi Revolusi Iran adalah akumulasi dari berbagai macam peristiwa berantai yang sangat kompleks dan bahkan untuk menjawab pertanyaan "kapan Revolusi Iran dimulai?" pun masih diperlukan kajian yang lebih dalam. Dari situ, mohon maklum jika ada ketidakakuratan data dikarenakan keterbatasan pustaka. Dan sekiranya penulis pun tidak akan menuliskan kronologi revolusi secara merinci karena bahasan esensial dari post ini bukanlah kronologi dari revolusi itu sendiri.

Pemberontakan melalui kekerasan pertama kali terjadi di Iran tepatnya di kota suci Qom pada tahun 1978. Pemberontakan di Qom merupakan reaksi terhadap penghinaan yang dilakukan oleh menteri penerangan Darius Homayoun yang menyatakan bahwa Khomeini adalah seorang homoseksual dan ia dibayar oleh dinas rahasia Inggris untuk menentang Shah. Dalam peristiwa ini, setidaknya ada 60 korban jiwa, dan seluruhnya adalah masyarakat sipil yang ditembak oleh militer Iran. Setelah peristiwa di Qom, nama Khomeini kembali menggema di Iran, setelah selama 14 tahun mengungsikan diri ke Najaf, Irak.

Ayatullah Khomeini adalah pemimpin Revolusi Iran yang seumur hidupnya telah mengabdikan diri untuk menumbangkan monarki Iran. Beliau telah secara keras mengkritik baik Reza Shah (Shah pertama dinasti Pahlavi, ayah dari Reza Pahlavi) maupun Reza Pahlavi. Khomeini telah berulang kali ditangkap dan dijadikan tahanan politik Shah hingga akhirnya ia mengungsi selama 14 tahun di Najaf, Irak dan 1 tahun di Neauphle-le-Chateau, Perancis sebelum kembali ke Iran dan menjadi Supreme Leader of Iran pasca revolusi.

Setelah terjadinya peristiwa di Qom, sentimen anti Shah kian menguat dan hal tersebut juga disuburkan oleh lantangnya suara Khomeini dari pengasingan. Pemeberontakan-pemberontakan lain pun kemudian terjadi saling susul-menyusul di banyak kota, dan tindakan keras yang diambil oleh rezim Shah hanya memperkuat gelombang aksi massa yang kian menjadi. Banyak korban berjatuhan di banyak kota, hingga pada akhirnya Shah pun pergi meninggalkan Iran pada bulan Januari tahun 1979, dan kepemerintahan di Iran di pegang oleh perdana menteri Syapur Bakhtiar yang ditunjuk oleh Shah kurang dari 2 minggu sebelum keperginnya.

Sebelum ditunjuk menjadi perdana menteri, Bakhtiar merupakan salah satu orang dalam yang 'memberontak'. Beliau menyatakan bahwa beliau kontra terhadap Shah beserta kebijakannya yang melanggar HAM, namun beliau juga tidak pro Khomeini, lebih tepatnya, beliau mengambil posisi pro revolusi. Bakhtiar bersedia ditunjuk menjadi PM karena tidak ada seorang pun yang telah ditunjuk oleh Shah bersedia mengemban tanggung jawab tersebut di tengah gelombang pemberontakan masyarakat yang semakin panas dari hari ke hari. Sebelum menunjuk Bakhtiar, Shah juga telah mencoba menunjuk seorang perwira tinggi militer, Jenderal Gholam Reza Azhari, menjadi perdana menteri pada bulan November 1978. Kepemerintahan militer Jenderal Azhari mengumumkan kondisi darurat perang di seluruh Iran, beberapa kota diberlakukan jam malam, dan siapapun yang melanggar akan ditembak di tempat. Namun hal tersebut tidak digubris oleh masyarakat, gelombang demonstrasi pun justru semakin menjadi-jadi. Masyarakat Iran sudah kerasukan roh revolusi, dimana nyawa yang gugur menjadi harga yang rela dibayar demi tumbangnya Shah Iran.

Sebagai orang yang pro revolusi, naiknya Bakhtiar terdengar seperti suatu hal yang inkonsisten karena beliau menerima jabatan yang diberikan oleh Shah. Yang penulis pahami, Bakhtiar bersedia menjadi PM karena beliau ingin memastikan bahwa revolusi berjalan ke arah yang benar, bukan sebuah revolusi semu, beliau ingin memastikan fasisme di Iran dihentikan selamanya melalui momentum revolusi tersebut. Dan argumen tersebut pula yang menyebabkan Bakhtiar enggan mundur dari kursi PM ketika diminta oleh Khomeini dan dewan revolusi bentukannya.

Ketika penulis membaca buku maupun artikel tentang Revolusi Iran, Syapur Bakhtiar merupakan tokoh yang tidak populer pada periode itu, dan yang menjadi pahlawan dari Revolusi lagi-lagi adalah Ayatullah Khomeini. Namun, pernyataan yang Bakhtiar sampaikan saat beliau masih menjabat sebagai Perdana Menteri Iran tentang Khomeini sekiranya sejalan dengan pikiran penulis, dan bahasan tentang apa yang Bakhtiar sampaikan akan dilanjutkan setelah ringkasan kronologi revolusi selesai dibahas.

Khomeini, yang namanya telah menggema dan merupakan tokoh yang paling populer pada masa itu pun pulang ke Iran pada 1 Februari 1979. Khomeini menyatakan dibentuknya dewan revolusi pada 5 Februari 1979, yaitu suatu pemerintahan interim yang bertugas menentukan nasib Iran pasca revolusi dengan Bazargan sebagai perdana menterinya. Pemerintahan tandingan (dewan revolusi) mengadakan referendum bentuk negara baru Iran, dan republik Islam menang dalam referendum tersebut. Kabinet Bazargan undur diri pada bulan November di tahun yang sama, dan pada bulan Desember referendum konstitusi baru dicanangkan. Tahun berikutnya, pemilu eksekutif maupun legislatif dilaksanakan, dan hingga kini bentuk negara Iran masih sama, sedikit perbedaannya hanya dihilangkannya posisi perdana menteri yang digantikan dengan presiden sesuai dengan referendum tahun 1989.

Kurang lebih, susunan lembaga negara Iran dengan Indonesia tidak ada bedanya, kita memiliki presiden, Iran pun punya, kita punya parlemen, Iran pun begitu. Kedua negara sama-sama menggunakan sistem check and balance trias politika negara demokratis pada umumnya, namun ada satu hal fundamental yang membedakan Iran dengan Indonesia, yaitu dasar pembentukan konstitusi itu sendiri. Indonesia menyusun konstitusi yang kita miliki berdasarkan ideologi Pancasila, yaitu ideologi yang disusun oleh para founding fathers sebelum Indonesia merdeka, sedangkan Iran menyusun konstitusinya berdasarkan ajaran Islam Syi'ah. Asas ideologi tersebut lah yang menyebabkan susunan lembaga negara kita berbeda dengan Iran. Masyarakat Iran memang memilih secara langsung presiden dan perwakilan rakyat mereka, namun, posisi pemimpin negara yang sebenarnya bukanlah presiden, melainkan Supreme Leader of Iran yang haruslah diisi oleh seorang Faqih.

Sistem kenegaraan yang Iran adopsi merupakan integrasi antara Velayat-e-Faqih (sistem kenegaraan yang dipimpin oleh ulama, berdasarkan ajaran aliran Syi'ah) dengan sistem negara republik. Jadi, Iran di atas kertas memang bukanlah negara monarki lagi, mereka adalah negara demokrasi karena masyarakat Iran memilih langsung presiden dan perwakilan rakyat mereka, namun hal ini menjadi sedikit lebih kompleks dan inkonsisten dengan adanya posisi seorang Faqih yang kuasanya lebih besar dari eksekutif maupun legislatif. Disinilah titik dimana Revolusi Iran menjadi suatu paradoks, suatu hal yang mengkhianati semangat revolusi itu sendiri, suatu revolusi yang tidak begitu revolusioner.

Kembali lagi kepada kronologi revolusi. Mengapa sosok Khomeini dapat melesat setinggi itu? Dalam menjawab pertanyaan tersebut, kita tidak dapat menjawab secara kritis tanpa memandang rendah masyarakat Iran saat revolusi terjadi, atau sekiranya begitulah yang saya percayai. Tidak dapat dipungkiri bahwa Khomeini adalah seorang yang gagah berani, ia berani bersuara dengan lantang melawan seorang tiran yang kejamnya tidak dapat dikira. Khomeini berani melakukan konfrontasi melawan seorang penguasa yang dzalim, demi kebenaran dan keadilan. Tidak dapat dipungkiri bahwa Khomeini adalah seorang pahlawan Revolusi Iran. Namun apakah dia benar-benar telah memimpin sebuah 'revolusi' di Iran? Bagi penulis pribadi, beliau telah membawa Iran keluar dari kandang harimau lalu masuk ke dalam mulut buaya.

Dan sebelum penulis dapat menjabarkan pendapatnya soal "keluar kandang harimau, masuk mulut buaya" sekiranya ada beberapa hal mendasar yang perlu pembaca ketahui soal Revolusi Iran dan beberapa informasi sampingan yang mungkin tidak terlalu umum diketahui ─ terutama di Indonesia ─ namun penting untuk memahami revolusi Iran.

Salah satu perbedaan mendasar antara aliran Sunnah dengan aliran Syi'ah adalah adanya 12 Imam Islam pada era yang sudah lewat beserta status posisi mereka dalam ajaran Islam. Dalam aliran Syi'ah, posisi keseluruh 12 Imam tersebut sejajar dengan Muhammad, namun mereka bukan nabi. Dan Imam atau pemimpin umat dalam keyakinan Syi'ah adalah suatu jabatan yang diberikan langsung oleh Allah, bukan dipilih oleh umat. Ke-12 Imam Syi'ah tersebut hidup dalam renggang abad ke-7 hingga abad ke-9 masehi. Imam terakhir dari ke-12 Imam tersebut adalah Imam Mahdi, yaitu seorang Imam yang menghilang namun dijanjikan oleh Allah akan muncul pada akhir jaman untuk berperang membela Islam melawan Dajjal (musuh umat Muslim).

Iran adalah negara Syi'ah, bahkan sejak Iran masih berstatus negara monarki pun Iran telah menjadi kekaisaran Syi'ah sejak abad 16. Lebih dari 90% warga Iran memeluk agama Islam Syi'ah, dan dengan begitu, Syi'ah otomatis menjadi darah daging kultur Iran selama lebih dari setengah milenium.

Sejak dulu banyak ulama dan Imam Syi'ah yang berseberangan pandang dalam mengimplementasikan Velayat-e-Faqih. Secara garis besar, pandangan ulama dan Imam terhadap Velayat-e-Faqih terbagi menjadi dua, yaitu limited dan absolute. Dalam pandangan limited, posisi Faqih beserta ulama hanyalah sebagai pengurus hal-hal non-litigasi dan terbatas pada hal-hal yang berhubungan langsung dengan hukum Islam. Sedangkan dalam pandangan absolute, posisi Faqih dan aplikasi hukum Islam haruslah berdiri di atas semuanya, termasuk pemerintahan. Jika mengacu pada kompas spektrum politik modern, maka pandangan limited dapat disebut sebagai golongan moderat dan pandangan absolute sebagai golongan konservatif.

Dengan adanya konsesi minyak beserta pekerja antara rezim Shah dengan Amerika, maka otomatis kultur barat masuk dengan mudahnya ke Iran. Masuknya kultur barat ke Iran tidak hanya mempengaruhi masyarakat Iran, namun juga mempengaruhi Shah sendiri. Hal tersebut menyebabkan banyaknya kebijakan Shah yang bertentangan dengan kultur Syi'ah, seperti misalkan: izin tempat berjudi, rumah pijat, dan lain-lain. Selain izin tempat-tempat tersebut, tindakan Shah yang semena-mena dalam menangani pihak oposisi juga berlawan dengan hukum Islam. Dari situ, bangkitlah sentimen bahwa Shah telah memperkosa kultur Iran. Kultur Iran yang merupakan kultur Syi'ah pun sangat menentang negara imperialis, khususnya Amerika.

"Amerika adalah pihak yang mendukung zionis Israel membantai saudara kita di Palestina" kurang lebih adalah salah satu argumen yang makin memperburuk citra Amerika dalam benak masyarakat Iran.

Dari seluruh kondisi tentang kultur Iran dan kultur Syi'ah yang saling mengikat satu sama lain, bangkitlah semangat revolusi beserta kondisi yang menjadi hasil dari revolusi itu sendiri.

Entah apakah masyarakat Iran pada masa itu memang memiliki semangat yang benar-benar kritis dalam menjalankan revolusi, atau masyarakat sekedar terbakar oleh pikiran dan omongan orang-orang seperti Ayatullah Khomeini, yang jelas, Revolusi Iran telah terjadi dan berhasil membawa Iran menjadi seperti sekarang ini. Revolusi Iran tidak akan terjadi tanpa penggunaan sentimen Islam. Sentimen tersebut adalah sentimen yang benar-benar memainkan peran dalam Revolusi Iran. Bahasa agama adalah bahasa yang pada masa itu disetujui oleh mayoritas masyarakat, itulah mengapa Khomeini merupakan figur yang diagung-agungkan dalam periode itu. Khomeini adalah sosok yang hendak membawa Iran menuju jalan yang 'benar' meninggalkan rezim bejat, rezim boneka, rezim kafir Shah Reza Pahlavi.

Namun, menurut penulis pribadi, Iran pra-revolusi dan iran post-revolusi tidak ada bedanya. Iran hanya meninggalkan era kediktatoran lama untuk memasuki era kediktatoran baru. Iran masihlah sama tidak demokratisnya. Revolusi Iran hanyalah revolusi semu. Mengapa? Karena Ayatollah Khomeini adalah seorang Absolute Guardianship of The Islamic Jurist. Ia adalah seorang petinggi agama dengan pandangan konservatif dalam membentuk Republik Iran. Dan tidak ada yang benar-benar tahu apakah maksud yang Khomeini jalankan merupakan suatu hal yang tulus demi kepentingan umat, namun bagi saya beliau adalah Napoleon era modern, dalam konteks revolusi.

Jadi, dengan diaplikasikannya Velayat-e-Faqih absolut, Iran menjadi sebuah negara demokrasi yang pada saat bersamaan juga tidak demokratis. Dalam Velayat-e-Faqih absolut, pemimpin negara diisi oleh seorang Faqih. Selain karena keyakinan dalam ajaran Syi'ah bahwa pemimpin dipilih oleh Tuhan, argumen tentang Imam Mahdi juga menjadi alasan mendasar soal posisi Supreme Leader of Iran. Imam ke-12 telah dijanjikan oleh Tuhan, melalui kitabnya, akan muncul suatu hari nanti. Maka dari itu pemimpin tertinggi Iran haruslah seorang Faqih, seorang ahli agama, seorang Ayatullah, karena jika pemimpin Iran bukanlah seorang ahli agama, maka dikhawatirkan jika kemunculan Imam Mahdi nanti akan entah bagaimana terlewat. Akal sehat saya sedikit tergelitik disini, karena masyarakat Iran pada saat revolusi terjadi setuju dengan Khomeini. Sekali lagi saya bertanya-tanya, seperti apa figur Khomeini ini sebenarnya? Apakah ia adalah seorang yang memang tulus ingin membawa Islam menuju masa jayanya kembali? Apakah ia memang seorang yang berjuang demi kepentingan umat? Atau apakah ia adalah seorang cerdik yang hanya memanfaatkan dalil agama? Entahlah semoga premis buruk yang saya miliki dalam kepala bukanlah suatu hal yang benar, karena jika iya, maka terkutulah masyarakat Iran dan terkutuklah Revolusi Iran.

Disinilah titik dimana penulis setuju dengan Syapur Bakhtiar saat beliau menolak untuk menyetujui keberadaan dewan revolusi dan Khomeini. Bakhtiar kurang lebih berkata: "Khomeini adalah seorang perusak, dia hanya sekedar membawa Iran keluar dari kediktatoran lama menuju kediktatoran baru. Jika kita mengadakan pemilihan sekarang, tentu saja Khomeini akan menang, namun coba jika kita mengadakannya tahun depan, popularitasnya akan menurun ketika akal sehat kita telah kembali." walaupun prediksi Bakhtiar tentang popularitas Khomeini melenceng, namun itulah akal sehat manusia yang berbicara.

Masyarakat Iran pada saat Revolusi telah dibutakan oleh emosi. Tentu saja mereka dibutakan oleh emosi, siapa yang tidak geram dengan raja yang memerintahkan pembakaran bioskop berisi 400 orang sipil? Siapa yang tidak geram dengan raja yang memerintahkan penembakan puluhan ribu atau mungkin ratusan ribu demonstran? Siapa yang tidak geram dengan raja yang memerintahkan penyerangan rumah sakit? Rumah sakit yang berisi pasien anak-anak dan dokter yang mengabdi untuk kebaikan bersama? Tentu saja masyarakat Iran geram. Merasa emosional pada masa itu merupakan suatu hal yang manusiawi, sangat manusiawi, namun ada satu hal vital yang masyarakat Iran lupakan pada masa itu: jangan mengambil keputusan saat akal sehat tidak berfungsi dan kepala diambil alih oleh emosi.

Disinilah poin dimana penulis memandang rendah masyarakat Iran pada era revolusi, mereka mengambil keputusan dan tindakan saat sentimen yang sedang bangkit mengambil alih akal sehat mereka. Orang-orang seperti Khomeini dikultuskan tanpa syarat dan dijadikan pemimpin, sedangkan Syapur Bakhtiar dibuang dan tidak didengar begitu saja semata-mata karena ia mendapatkan jabatan perdana menteri dari Shah.

"Those who are able to see beyond the shadows and lies of their culture will never be understood, let alone believed, by the masses." -Plato

Pendapat penulis akan sangat berbeda jika Khomeini dijadikan seorang kandidat calon presiden/perdana menteri dengan masa jabat terbatas, namun posisi Supreme Leader of Iran? Tentu saja Iran telah memasuki sebuah kediktatoran baru, hanya saja setelah revolusi kediktatoran Iran memiliki momok "Agama" dan segala tindakan yang negara ambil merupakan tindakan "demi kepentingan agama." Siapa yang berani melawan titah negara jika kasusnya seperti itu? Dimana letak hakikat demokrasi yang sebenarnya ─ equal rights for all, special privileges for none? Pihak oposisi dapat dibungkam dengan argumen "yang mereka lakukan melawan agama." Dan mohon jelaskan kepada penulis, demokrasi macam apa itu? Apa bedanya Khomeini dengan Reza Pahlavi? Keduanya memiliki titah yang absolut, namun masyarakat Iran dapat sedikit berharap pada sifat amanah Khomeini maupun penerusnya, tetapi, apakah masyarakat dapat terus berharap pada sifat amanah seorang figur? Lalu apa yang akan terjadi jika Supreme Leader of Iran bertindak dzalim? Siapa yang bertanggung jawab?

Supreme Leader of Iran ditunjuk dan diawasi oleh Assembly of Experts. Dibawah Supreme Leader of Iran ada presiden dan parlemen, namun semua ini hanya menjadi sebuah ilusi karena seluruh kandidat Assembly of Experts, presiden, hingga parlemen, dipilih oleh Guardian Council, sedangkan seluruh anggota Guardian Council ditunjuk oleh Supreme Leader of Iran. Dengan mekanisme tersebut, demokrasi Iran menjadi sebuah demokrasi pertunjukan boneka dengan satu dalang: Ayatullah Ruhullah Khomeini.

Iran hanya menjadi sebuah negara monarki baru, dengan tambahan atribut Islam.

Polisi rahasia SAVAK merupakan satu hal yang cukup ditakuti masyarakat Iran pada era rezim Shah. SAVAK menyelundup masuk jauh ke dalam setiap elemen sosial masyarakat demi terjaganya kekuasaan Shah. Dan ya, tentunya instansi tersebut dibubarkan, diikuti oleh eksekusi mati para pemegang peran penting didalamnya. Masyarakat Iran tidak perlu takut kepada SAVAK karena SAVAK telah diberantas, dan masyarakat Iran dapat mengandalkan Islamic Revolutionary Guard Corps atau Pasdaran. Apa itu Pasdaran? Pasdaran merupakan lembaga keamanan yang dibentuk pasca revolusi, dan dimandatkan untuk menjaga agar apa yang telah dicapai oleh revolusi tidak berubah, termasuk kekuasaan Khomeini dan penerusnya, dengan cara apapun.

IRGC = SAVAK!

Pasdaran mempenetrasi kehidupan masyarakat sama dalamnya dengan SAVAK. Bahkan lebih buruk lagi, IRGC bukan hanya memiliki peran yang besar dalam spektrum sosial masyarakat Iran, namun IRGC juga memiliki peran besar dalam spektrum ekonomi dan politik. Selain itu, Pasdaran juga memiliki kekuatan militer sendiri, karena mandat yang diberikan tidak hanya berlaku untuk ancaman dalam negeri, tetapi juga luar negeri.

Setelah Khomeini naik secara resmi menjadi Supreme Leader of Iran, pemerintah mengumumkan hukuman mati kepada seluruh keluarga Shah dan pejabatnya, termasuk Bakhtiar. Lalu Bakhtiar mengungsi ke Perancis dan dari Paris, Bakhtiar mengatur gerakan pihak oposisi pemerintah Iran dalam negeri. Beliau membantu mengorgansir upaya kudeta pada tahun 1980 yang gagal, dan hal tersebut mendesak pemerintah Iran untuk menjalankan hukuman mati Bakhtiar. Bakhtiar pun berhasil di bunuh pada tahun 1991 di Paris. Dengan pembunuhan Bakhtiar yang jelas-jelas dilakukan oleh pemerintah Iran, sekiranya penulis sudah tidak dapat mengerti lagi apa yang ada di benak masyarakat Iran baik pada saat revolusi, maupun sekarang.

Iran sudah masuk ke dalam mulut buaya, dan entah apakah masyarakat Iran sadar akan hal tersebut.

0 comment(s):

Post a Comment